Menu

Rawan Iritasi, Jangan Sembarangan Cukur Bulu Kemaluan Jika Tak Ingin Hal Ini Terjadi!

Nada Saffana
23 Juli 2020 12:45 WIB
Rawan Iritasi, Jangan Sembarangan Cukur Bulu Kemaluan Jika Tak Ingin Hal Ini Terjadi!

Ilustrasi mencukur rambut kemaluan. (pinterest/freepik)

HerStory, Jakarta —

Manusia diciptakan dengan memiliki bulu dibeberapa bagian tubuh. Salah satunya adalah dibagian kemaluan. Para wanita biasanya memilih untuk menghilangkan bulu kemaluan agar dapat tampil percaya diri saat mengenakan pakaian terbuka. Salah satu cara untuk menghilangkan bulu kemaluan adalah dengan mencukur.

Namun, tak jarang mencukur bulu kemaluan bisa mengakibatkan iritasi yang bisa berbahaya. Dalam sebuah survei baru yang dilaporkan dalam JAMA Dermatology, para peneliti menemukan bahwa 76% orang dewasa di mengaku melakukan perawatan pada bulu kemaluan, dan seperempat darinya mengalami iritasi.

Iritasi yang paling umum adalah timbul luka, diikuti oleh ruam dan luka bakar. Sebagian besar iristasi yang disebabkan memang tak serius, tetapi dalam 1,5% kasus, itu membutuhkan perhatian medis.

Benjamin Breyer, wakil ketua di bidang urologi Universitas California San Francisco, dan rekan-rekannya melakukan survei menggunakan kuesioner yang dirancang khusus yang meminta para wanita untuk melaporkan kebiasaan perawatan bulu kemaluan. Hasilnya kuesioner ini menunjukkan bahwa wanita yang megalami iritasi ternyata mencukur habis bulu kemaluan mereka.

“Satu pelajaran yang bisa diambil dari hal ini adalah bahwa jika sering alami iritasi, kamu harus mempertimbangkan kembali area yang ingin di rawat, seberapa sering kamu melakukannya, dan sejauh mana kamu melakukannya,” kata Breyer.

Survei itu tidak dirancang untuk menentukan metode perawatan mana yang lebih aman, waxing atau cukur. Tetapi, hasil dari kuesioner ini menunjukkan bahwa lebih dari 60i iritasi yang dialami wanita terkait dengan luka yang digunakan saat mencukur. Artinya menggunakan pisau cukur lebih berbahaya untuk digunakan.

Breyer mengatakan bahwa iritasi di daerah kemaluan dapat membuat seseorang lebih rentan terinfeksi bakter atau virus, seperti penyakit menular seksual.