Evelyn Yonathan, Chief People Officer (CPO) Lazada Indonesia. (Dok. Lazada Indonesia/Edited By HerStory)
Beauty, isu mengenai kesetaraan gender bagi wanita sudah menjadi topik yang selalu diperbincangkan sejak ratusan tahun lalu, awalnya hanya berupa hak untuk memilih atau berkontribusi suara dalam Pemilu. Hari ini, kita bisa melihat karir wanita sudah setara dengan pria di dunia kerja termasuk di industri e-commerce.
Ya, stigma bahwa e-commerce merupakan ‘ladang kerja maskulin’ pun dipatahkan oleh sosok Evelyn Yonathan. Kini, wanita yang karib disapa Evelyn itu berhasil menduduki C-Level di perusahaan e-commerce besar, Lazada Indonesia, yakni sebagai Chief People Officer (CPO).
Lantas, bagaimana sih kisah awal Evelyn terjun ke industri e-commerce dan bagaimana ia bisa sampai di titik menemukan kesuksesannya?
Menurut pengakuan Evelyn, dirinya mengawali kariernya di Lazada sejak 6 tahun lalu sebagai bagian dari commercial team. Namun, pada medio Desember 2020 lalu, ia ditawari untuk menduduki posisi manajerial. Berangkat dari ilmu psikologi yang ia punya, Evelyn memberanikan diri untuk mengambil posisi tersebut.
“Jadi, awal mulanya itu karena CEO ingin mengubah the face of Human Resource (HR). Biasanya, HR adalah orang-orang di belakang meja, yang hanya mengurus masalah operasional karyawan. Tapi,beliau (CEO) mau HR harus berperan sebagai business partner dari perkembangan Lazada. Waktu diminta itu aku shock sekali karena aku gak punya background people selain aku lulusan psikologi. Aku gak pernah kerja di people, selalu kerjanya itu di sales, marketing, pokoknya berhubungan dengan angka, duit, dan GNP. Jadi gak pernah ngurusin people. Tapi ternyata people itu its very important roll in organization, karena yang melakukan bisnis itu kan people. Dan, fungsinya HR itu ekarang how you can support the business,” papar Evelyn, saat wawancara group eksklusif bersama HerStory, Kamis (17/3/2022).
Terkait label dunia teknologi digital, khususnya e-commerce yang identik dengan pria, tak lantas membuat Evelyn terbebani. Sejak bekerja di Lazada Indonesia, Evelyn mengaku tak sedikit pun mengalami diskriminasi gender, baik dalam hal pemberian kesempatan untuk pengembangan karir atau capability maupun dalam pengakuan terhadap achievement. Gak cuma itu, dari pengalamannya bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang, Evely pun mengatakan bahwa di Lazada sendiri tak ada perbedaan yang fundamental antara pria dan wanita dalam hal skill.
“Terkait yang dibilang bahwa e-commerce itu adalah dunianya pria, saya bisa buktikan itu tidak benar adanya. Di Lazada Indonesia sendiri kita itu gak punya inisiatif untuk mendorong wanita masuk ke e-commerce, karena ibaratnya apa ya selama yang aku jalani di Lazada mau wanita atau pria itu sama aja. Jadi mungkin di company lain yang sebelumnya aku kerja, ketika mereka mau melakukan suatu inisiatif yang meng-empower wanita, mereka tuh sampai bikin peraturan kayak ‘oh kalau mau interview, si interviewer-nya harus 1 dari 3 orang itu wanita’, gitu loh, sedangkan kita di Lazada gak ada seperti itu. Karena memang kita tidak melihat itu diperlukan, karena memang semua orang itu sama. Jadi menurut aku lazada its very good place, terlepas kamu gendernya apa, as long as you have unique perform, then we’re going to reward you,” tutur Evelyn.
“Dan terkait stigma, saya rasa sudah gak ada stigma. Kalau dibilang wanita Indonesia gak bisa berkerja di industri e-commerce atau teknologi which is aku rasa kita sudah mematahkan itu. Karena kebetulan demografiknya kita wanita lebih banyak daripada pria di employee kita. Jumlah manajer juga sama, wanitadi level manajerial lebih banyak dibanding pria manajerial di Lazada. Jadi aku rasa di situ udah menunjukkan bahwa kita nggak punya spesifik inisiatif untuk mendorong wanita, karena kita dari awal tidak melihat itu sebagai suatu masalah. Memang semuanya sama, jadi tidak perlu ada spesifik encouragement how to bring female to another level, kalau kebetulan wanita yang perform ya wanita itu yang naik, begitu juga sebaliknya,” sambung Evelyn.
Nah Beauty, bekerja di e-commerce terbesar di Asia Tenggara pun membuat Evelyn untuk ikut mendorong kesetaraan gender dalam lingkungan kerja. Bersama timnya, ia membuat policy agar karyawan Lazada punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri.
Salah satu kebijakan tersebut adalah tidaak adanya penyebutan level jabatan di lingkungan perusahaan. Evelyn ingin para karyawan Lazada bisa bekerja sama dengan siapa pun tanpa memedulikan titel yang melekat, sehingga tidak ada batasan untuk berkembang. Tak hanya itu, semua karyawan juga mendapatkan gaji yang sesuai dengan kinerjanya.
“Kita, di Lazada itu ada sistem yang mana jabatannya kita cabut. Jadi kita mau interaksi di level yang sama. Karena orang Indonesia itu punya kecenderungan hierarki, kalau manggil yang lebih tua harus manggil tante lah, om lah, bapak, ibu, kalau gak, gak hormat.Nah di Lazada itu sengaja kita cabut supaya semuanya itu rata dan sederajat. Ini bukan inisitif aku, kebetulan ini memang inisiatif yang diturunkan dari Alibaba-nya sendiri. And then kita sebagai Alibaba Group, kita harus meng-adopt ini dan kebetulan kita juga welcome. Bener juga kan. Buat apa kamu tahu aku levelnya apa, yang penting kan kamu butuh apa, dan apakah aku bisa menjawab pertanyaan aku kan. Seperti itu,” tegas Evelyn.
Selain menciptakan lingkungan kerja yang setara, Lazada juga turut berperan dalam memberdayakan wanita di seluruh ekosistemnya, baik itu karyawan, seller, hingga konsumen.
Evelyn memaparkan, Lazada Indonesia mempunyai berbagai program yang bisa mendukung pemberdayaan wanita. Seperti Lazada University dan Women's Club untuk menghadirkan sosok-sosok wanita inspiratif yang bisa menjadi role model. Sementara untuk konsumen, Lazada memiliki program Lazada Women Festival yang ditujukan untuk seluruh konsumen wanita di Lazada. Lewat program-program tersebut, kata Evelyn, Lazada berharap dapat secara konsisten memberikan dukungan serta apresiasi bagi banyak wanita hebat di Indonesia.
“Jadi intinya, Lazada itu mau stay di Indonesia lama lho, kita gak cuma urusan 10 tahun – 20 tahun gitu, kita maunya lama. In way we need to obligation how to give back to community Indonesia itu sendiri. Kalau kita maunya egosi, nyari bisnis aja, nyari untung saja gak peduli sama yang lain gitu ya, percayalah itu nggak bakalan tahan lama. Jadi buat kita, kita make sure untuk punya continuity yang lama, itu start from now how to educate all of them. That’s our dream, our vision and mission,” imbuh Evelyn.
Kemudian, terkait dengan pesatnya kemajuan teknologi dan tuntutan pasar, industri e-commerce pun kini menjadi sangat kompleks. Kata Evelyn, hal itupun mengharuskan dirinya untuk siap menghadapi berbagai macam tantangan. Lantas, bagi Evelyn sendiri, suka duka bekerja di industri e-commerce ini apa saja ya?
“Sukanya itu berasa muda terus. Karena sekelilingnya anak muda. Terus kemudian we always became a trendsetter. Kita tau yang akan terjadi ke depan itu seperti apa, kita lebih cepat, market itu maunya seperti apa kita tahunya lebih cepat. Jadi itu menyebabkan kita punya informasi terdepan. Itu sukanya. kalau dukanya, adalah I cannot lie bahwa kerja di e-commerce itu penuh dengan perubahan. You need to be very agile. Kadang-kadang kita sebagai manusia capek juga ya, yah berubah lagi. Tapi we need to understand bahwa perubahan-perubahan itu mahal harganya kalau misalnya di korporat. Jadi in the end kalau kita melakukan perubahan, dan we need to understand bahwa ini tujuan akhirnya mau kemana. Dan in the way we need to be very agile, itu sih. Kemudian waktu. Sebenarnya kerja di e-commerce kalau disebut gak punya life balance gak juga ya, aku juga weekend gak buka laptop, begadang pun jarang. Jadi gimana pinter-pinternya kita atur waktunya aja,” beber Evelyn.
Lebih lanjut, Evelyn pun lantas membeberkan skill apa yang harus dimiliki seseorang utamanya wanita untuk terjun ke industri e-commerce. Evelyn bilang, siapa saja punya peluang karier di e-commerce. Tapi, kalau mau berkembang dan sukses di industri ini, kamu harus memiliki growh mindset dan punya skill untuk agile.
“Skill yang dibutuhkan wanita untuk terjun ke e-commerce, menurut aku baik itu wanita atau pria itu sama. Yang pertama itu harus punya growth mindset dulu. Kalau kita gak punya itu, kita gak mau berkembang, ya susah. Kenapa? Karena e-commerce itu speed nya itu sangat cepat. Dan semuanya banyak yang baru setiap saat. Jadi perlu orang agile, in the same time dia harus punya growth mindset bahwa dia mau belajar sesuatu yang baru. Kalau kita tidak compatible dengan perubahan yang sangat cepat, itu akan sulit untuk masuk ke e-commerce. Itu dulu sih yang dibutuhin yang paling basic,” jelas Evelyn.
Selama mengemban tugas untuk memerhatikan kebutuhan karyawan alias people di Lazada Indonesia, Evelyn mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam memimpin.
“Kalau ditanya gaya leadership yang saya anut, saya bisa katakana saya sangat self forward, terus kemudian balik lagi karena demografik di sini kebanyakan anak muda, jadi mau gak mau style-nya juga harus kayak anak muda. kita harus to be able dalam arti entertain. Entertain di sini maksudnya cara mereka berkomunikasi kan sangat cepat, self forward, dan sangat terbuka, jadi dengan demografik ini mau gak mau segala policy yang saya buat di Lazada itu harus mumpuni kebutuhan anak muda. kita sebagai leader harus open minded. You need to be able to accept the criticize. Jadi jangan kita mau nyarinya anak muda trus kita pakai di kantornya itu policynya hierarki yang panjang. Itu gak akan masuk. Jadi banyak sekali policy-policy yang kita buat itu kita ajust supaya bisa masuk ke demografik yang kita punya,” jelas Evelyn.
Evelyn pun lantas mengatakan bahwa untuk ‘rahasia’ untuk menjadi pemimpin wanita di era digital ini, yang penting harus dilakukan adalah open mindset, keep learning, dan harus selalu humble.
“Kalau aku boleh aku jujur, yang harus dilakukan adalah open mindset. Lalu, keep learning, semakin tinggi your level, you ned to be very very humble. Bahwa kamu harus make a piece, you’re the smartest one in the room. Jadi even myself sampai sekarang pun aku masih banyak belajar. Jadi antara C-Level perempuan yang ada di Lazada, kebetulan aku yang paling muda. jadi aku belajar dari C-level yang lain, dan aku belajarnya juga gak cuma ke atas, tapi juga ke bawah. Jadi growth mindset-nya ijuga penting banget. Dan be humble. Jadi sebenarnya gak ada tips and trick above and beyond yang luar biasa. You can learn everything around yourself yang mungkin gak kamu duga-duga sebelumnya,” paparnya.
Lalu kira-kira, menurut Evelyn, value apa yang harus dimiliki seseorang utamanya wanita supaya sukses di karir dan hidupnya? Terkait hal itu, Evelyn pun punya pandangan yang sangat-sangat menarik.
“Menurut aku alasan kita bekerja itu kebutuhannya berbeda-beda. Dan bagi aku sendiri, aku selalu ingin bekerja di sebuah perusahaan dimana suaraku bisa didengar. Ak gak mau mengerjakan pekerjaan yang hanya this is the job desk, just do it. Itu yang menurut aku kalau menyangkut value. Tapi kalau secara general wanita itu harus punya value apa, menurut aku kamu harus punya value mengerti what its your worth of self. Kita yang menentukan kita mau diperlakukan seperti apa dan standar kita apa. Jadi jangan takut terintimidasi sama pria, sama kata-kata teknologi, karena smua itu bisa dipelajari,” imbuhnya.
Dan, meski telah sukses menjadi pemimpin wanita, Evelyn nyatanya tetap bisa menyeimbangkan antara karir dan keluarganya. Karena menurut dia, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga sangatlah penting. Kuncinya ada pada support system dan ekosistem yang tepat, yang bisa menyeimbangkan antara profesi dan menjadi istri sekaligus orang tua.
“Untuk menyeimbangakan rumah tangga, menurut aku satu carilah pasangan hidup bisa menjadi support system kita. Kedua adalah built the ecosystem that can help you. Again, saya bukan superwomen, saya wanita biasa, punya anak, punya kerjaan yang dari pagi sampai malam. Jadi kalau misalnya saya mau survive dengan kehidupan rumah tangga dan karir saya sekaligus, saya harus punya ekosistem yang tepat. Kalau saya, saya harus punya nanny yang bagus, kedua jalinlah good relationship dengan orang tua dan keluarga yang lain, family support itu penting banget. jadi gak mungkin lah kita bisa melakukan semuanya sendirian. Jadi di rumah mesti bangun ekosisistemnya, di kantor juga bangun ekosistem juga. Pilihlah orang-orang yang bagus dan pintar untuk masuk ke dalam tim. Jangan takut meng-hire orang-orang yang lebih pintar dari kita. karena support system itu very very important untuk nge-buzz karir kita sebagai pekerja wanita di industri ini,” terangnya.
Terlepas dari itu semua, Evelyn pun lantas membeberkan ihwal perubahan yang telah berhasil dilakukan oleh tim people yang ‘disupiri’ olehnya yang patut menjadi contoh bagi Lazada di negara lain. Menurutnya, salah satu hal yang jadi best practice Lazada Indonesia yang dicontoh Lazada di negara lain adalah program FOYO. FOYO adalah inisiatif dari Lazada Group, kependekan dari Forward Youth, dimana itu adalah program khusus untuk memberikan empowerment ke anak-anak muda Indonesia.
Dengan komitmen pemberdayaan generasi muda yang kuat, kata Evelyn, pihaknya di Lazada Indonesia bahkan membentuk satu tim khusus untuk menangani FOYO. Tujuannya, memastikan pelaksanaan FOYO terstruktur dan menghasilkan talenta Lazada yang terampil, kuat, dan mampu mengikuti perkembangan industri e-commerce yang sangat dinamis.
“Jadi FOYO ini dijalankan Lazada di tiap negara, tapi inisiatifnya berbeda-beda tiap negara. Dan di Indonesia kita memilih jalur pendidikan. Dimana jalur pendidikan kita ikutan sama Kampus Merdeka. Kita welcome banget saat diundang sama Kampus Merdeka karena kita tahu talent yang melek teknologi ini di Indonesia sangat sedikit. Tapi mereka punya skill-nya, tinggal kita ngasahnya. Kita sudah berjalan 2 batch. Dan itu itu kita sangat happy dengan angkanya, padahal vacancy yang kita buka untuk lowongan Kampus Merdeka itu gak banyak tapi yang melamar itu banyak sekali. Kita gak nyangka animonya begitu besar. Ternyata banyak anak muda yang mau melek dengan industri digital teknologi kita,” beber Evelyn.
Selain FOYO, lanjut Evelyn, Lazada pun punya program lainnya bertajuk LazPrentice. Program tersebut merupakan program intership internal Lazada Indonesia. Berbeda dengan FOYO, LazPrentice menyasar mahasiswa yang sudah di tingkat akhir maupun fresh graduate. Program ini diadakan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan bulan September.
“Selama setahun, kami mencari sekitar 30-50 orang untuk magang di Lazada. Jika selama magang peserta dapat menunjukkan performa yang bagus, mereka bisa diangkat menjadi karyawan tetap di Lazada. Ini prosesnya panjang banget tapi kita sangat happy animonya besar banget. Gak hanya itu, kita juga melakukan scholarship. Yang kita lakukan adalah untuk kita bagi 2, yaitu scholarship internal dan eksternal. Yang eksternal ini kita pilih dari anak-anak mahasiswa yang kebetulan juga kita mau kasih ke 10 orang tapi yang daftar 2000-an. Dan itu luar biasa pinter-pinternya,” imbuhnya.
“Nah kalau yang internal ini kita memberikan kurir-kurir kita. Jadi banyak kurir-kurir ini yang masih pada kuliah. Jadi kita memberikan scholarship buat mereka. Tapi caranya gak segampang itu. Jadi para kurir ini mereka harus presentasi masalahnya apa, cara menyelesaikannya gimana, dari situ baru kita pilih. Jadi ini inisiatif FOYO kita yang impact-nya sangat luar biasa yang akhirnya itu dicontoh sama negara-negara lain. Itu salah satu contohnya lah yang kita lakukan,” lanjut Evelyn.
Nah Beauty, sederet kontribusi Evelyn di Lazada Indonesua ini merupakan contoh bahwa ia mampu menjadi Kartini masa kini lewat caranya sendiri. Untuk sampai di posisi seperti sekarang, Evelyn selalu percaya bahwa proses tak akan mengkhianati hasil. Mengenali diri sendiri, mengetahui tujuan yang ingin dicapai, dan berjuang untuk menggapai hal itu menjadi pegangan Evelyn dalam menjadi wanita yang berdaya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.