Broken heart (Pexels/Atc Comm)
Jatuh cinta memang berjuta rasanya, bisa menjadi manis, penuh gairah, dan memuaskan. Tetapi cinta juga bisa sangat menyakitkan hingga menyebabkan stres, amarah, dan kesedihan. Bahkan dalam beberapa kasus, cinta bisa menimbulkan kehancuran dalam diri seseorang.
Seperti diketahui, cinta terkadang tidak berjalan mulus dan sesuai harapan. Ketika hal itu terjadi, beberapa orang mungkin mengalami lovesickness atau sering disebut sindrom patah hati.
Lovesickness mengacu pada penderitaan yang dapat menghasilkan perasaan negatif ketika jatuh cinta hingga penderitanya tidak dapat bertindak secara normal. Lovesickness dapat terjadi karena sangat merindukan orang yang dicintai, patah hati, atau cinta tak terbalas.
Meskipun bukan kondisi kesehatan mental yang diakui secara klinis, penelitian tentang lovesickness menunjukkan bahwa itu adalah gangguan nyata.
Kondisi ini menunjukkan sejumlah gejala mental dan fisik yang dapat berkisar dari ringan hingga ekstrem.
"Secara umum lovesick terjadi ketika perasaan romantis mengambil alih pikiran dan tubuh kamu sepenuhnya. Dari pikiran obsesif, hingga perasaan cemas, hingga kehilangan nafsu makan, mabuk cinta bisa menyita segalanya," kata psikoterapis Annette Nuñez, M.S., Ph.D., dikutip AKURAT.CO, Minggu (27/3/2022).
Nuñez menambahkan bahwa penting untuk dicatat bahwa lovesickness tidak sama dengan jatuh cinta secara tulus.
"Ada perbedaan yang jelas, karena ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu tidak terobsesi dengan mereka," katanya.
Sama seperti patah hati, lovesickness juga memiliki beberapa tanda atau gejala.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di Akurat
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Akurat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.