Beauty, tahukah kamu kalau patah hati itu ada sindromnya? Sindrom patah hati dikenal di dunia medis sebagai kardiomiopati takotsubo hampir 90 persen menyerang wanita usia 58 hingga 75 tahun. Masalah patah hati ini ternyata makin marak setelah adanya pandemi ini. lho!

Bagi beberapa orang, patah hati adalah peristiwa pahit, bahkan bisa mengalami stres. Tak hanya beban emosional yang mesti ditanggung, tetapi juga bisa merugikan kesehatan fisik. Namun, sindrom patah hati yang dimaksud bukan berkaitan dengan gagalnya hubungan asmara, melainkan karena masalah kesehatan jantung. Sindrom patah hati dikenal di dunia medis sebagai kardiomiopati takotsubo, pertama kali ditemukan di Jepang pada 1990.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, hampir 90 persen kasus patah hati ini menyerang wanita usia 58 hingga 75 tahun. Sindrom patah hati ini melemahkan bagian kiri ventrikel jantung, serta organ pemompa darah di jantung. Penyebab utamanya adalah jantung yang kena "serangan mendadak" karena deraaan emosi yang kuat. Makanya, stres fisik dan emosional yang tiba-tiba, biasa menjadi asal muasal sindrom patah hati. Kecelakaan serius, kehilangan atau kematian orang tersayang, atau bencana alam adalah penyebab yang sering ada pada orang-orang penderita sindrom patah hati.

Baca Juga: Corona Belum Usai, Virus 'Tick-Borne' Mewabah di China, Apa Itu?

Baca Juga: Duh! Murid SD Ini Kena Virus Corona di Hari Pertama Sekolah

Bencana gempa bumi sering kali jadi penyebab orang-orang menjadi stres dan kehilangan orang tersayangnya di Jepang. Itulah kenapa kardiomiopati takotsubo dikenal luas dengan sindrom patah hati. Patah hati karena kehilangan orang-orang terdekatnya, sama seperti pandemi ini, masalah stres dilaporkan melonjak karena COVID-19. Banyak orang kehilangan pekerjaan, menurunnya penghasilan, serta kehilangan anggota keluarganya, yang menjadikan sindrom patah hati ini juga meningkat, Beauty.

Dilansir dari JAMA Network Open, sepanjang Maret hingga 30 April 2020, terjadi peningkatan kasus sindrom patah hati di Cleveland Clinic dan Cleveland Clinic Akron General, Amerika Serikat. Peningkatan kasus ini melonjak hingga 7.8 persen dari sebelumnya yang hanya 1.7 persen di kedua klinik tersebut.

Enggak cuma itu, Beauty. Dilansir dari Science Daily, pasien yang mengalami sindrom patah hati juga dilaporkan menjalani rawat inap lebih lama daripada masa-masa sebelum pandemi, "pandemi COVID-19 meningkatkan tingkat stres orang-orang di Amerika dan dunia. Orang-orang enggak cuma khawatir tentang diri mereka, keluarga, tapi juga berhadapan dengan masalah ekonomi, beban emosi, masalah sosial, dan potensi kesepian, dan isolasi," kata Ankur Kalra, MD, Ahli jantung Cleveland Clinic di Bagian Kardiologi Invasif dan Intervensi dan Kedokteran Kardiovaskular.

Gejala dari sindrom patah hati ini sendiri adalah nyeri dada dan sesak napas usai stres berat (baik itu stres emosi atau tekanan fisik), kelainan elektrokardiogram yang menyerupai serangan jantung, nggak ada bukti obstruksi arteri koroner jantung, gerakan kelainan pada ventrikel kiri jantung dan pembengkakan di ventrikel kiri jantung.

Baca Juga: Wanita Perlu Tahu, 3 Karakter Pria yang Bikin Sakit Hati, Waspada Ya!

Baca Juga: Mulai Jenuh? 5 Film Ini Asik Buat Refreshing di Rumah Saja!

Salah satu peneliti peneliti masalah kardiomiopati, Grant Reed, MD, M.Sc., mengungkapkan bahwa "Sementara pandemi terus berlanjut, merawat diri selama COVID-19 ini sangat penting bagi kesehatan jantung kita, dan terutama kesehatan kita secara umum," jelasnya.

Meskipun menunjukkan peningkatan sindrom patah hati selama COVID-19, para peneliti menyatakan bahwa temuan ini membutuhkan penelitian lanjutan di daerah dan wilayah lainnya supaya bisa digeneralisasi.

Nah, untukmu yang merasa kewalahan karena stres, coba untuk hubungi penyedia layanan kesehatan. Olahraga, meditasi, dan berhubungan dengan keluarga dan teman-teman, sambil menjaga jarak fisik, juga dapat membantu meredakan kecemasan, lho!