Ilustrasi melatih anak puasa. (Shutterstock/edited by HerStory)
Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A, menegaskan jika daya tahan tubuh anak saat puasa jadi tantangan tersendiri. Karena menurut dr. Kanya, sistem imun dewasa dan anak-anak itu sangat-sangat berbeda.
“Karena seperti kita tahu manusia lahir dengan kertas putih polos, jadi bener-bener gitu dia itu steril tidak terpapar apapun sejak dalam kandungan. begitu bayi lahir barulah dia mulai terpapar dengan kuman kulit di vagina, kuman kulit ibunya pada saat ini IMD, barulah dia terpapar dengan bakteri, virus, alergen yang ada di dunia ini. Saat itulah dia baru membentuk sistem pertahanannya baru terbentuk. Dan proses ini baru terbentuk sempurna justru di usia 8 sd 10 tahun, jadi kalau tadi dibilang pada anak-anak itu dia berbeda dengan dewasa, iya. Setelah dia berusia 10 tahun baru agak lebih mirip ke dewasa,” beber dr. Kanya, saat peluncuran produk Redoxon Kids melalui virtual, sebagaimana dipantau HerStory, Senin (4/4/2022).
Karenanya, saat bulan puasa terlebih masih dalam kondisi pandemi, lanjut dr. Kanya, anak-anak ini harus tetap dilindungi dari paparan virus, bakteri, alergen yang banyak sekali. Dengan cara memastikan asupan nutrisinya baik, status gizinya baik, imunisasinya lengkap, waktu istirahatnya harus cukup dan juga jangan lupakan bermain.
“Kenapa kok ada bermain? Ya, karena dunia anak itu dunia bermain, sekali lagi anak tidak sama dengan dewasa. Anak itu bertumbuh dari segi fisik dan berkembang, baik apa personal sosialnya, kemandiriannya, tanggung jawabnya dia, motor kasar dan motor halus,bicara, itu semuanya dia butuh wadah bermain untuk menstimulasi perkembangan itu,” papar dr. Kanya.
dr. Kanya mengatakan, saat bulan Ramadan, konsumsi asupan anak jadi terbatasi, sementara intensitas aktivitas nyaris sama dengan hari-hari biasa. Namun, jika tanpa diimbangi asupan bergizi yang mengandung mikronutrien mencukupi, daya tahan tubuh dapat terpengaruh sehingga anak berisiko batal puasa, bahkan bisa jatuh sakit.
Karenanya, guna mengantisipasi gangguan kecukupan asupan selama berpuasa, selain protein, karbohidrat kompleks dan buah, kata dr. Kanya, anak juga membutuhkan tambahan suplementasi, terutama Vitamin C sebagai zat gizi mikro yang esensial bagi anak-anak.
“Nah, terkadang orang tua itu sering mengabaikan mikronutrien ini. Padahal, saat menjalani puasa Ramadan, konsumsi asupan anak terbatasi sementara intensitas aktivitas nyaris sama dengan hari-hari biasa. Tanpa diimbangi asupan bergizi yang mengandung mikronutrien mencukupi, daya tahan tubuh dapat terpengaruh sehingga anak berisiko batal puasa, bahkan bisa jatuh sakit,” jelasnya.
“Nah, Vitamin C merupakan salah satu zat gizi mikro esensial yang berpengaruh pada imunitas tubuh anak, berfungsi menyokong sistem kekebalan melalui peningkatan aktivitas fungsi sel darah putih dan produksi antibody,” paparnya.
"Jadi, selain sayur dan buah, dianjurkan untuk memberikan susu setiap hari kepada anak karena segelas susu mengandung ragam nutrisi baik, seperti protein, serta berbagai vitamin dan mineral," sambung dr. Kanya.
Kemudian, dr. Kanya pun menuturkan bahwa kekurangan vitamin C ini bisa mengakibatkan anak-anak semakin rentan terhadap infeksi.Salah satunya batuk pilek, terhambatnya pembentukan kolagen yang menyebabkan gangguan pertumbuhan, penyembuhan luka yang lambat, hingga menimbulkan gejala penyakit skorbut (merasa lelah dan lemah sepanjang waktu, kehilangan nafsu makan, mudah tersinggung dan uring-uringan.
“Gak berhenti di situ, vitamin C juga merupakan salah satu antioksidan utama yang dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan DNA. Sistem kekebalan tubuh memainkan peran penting dalam perkembangan otak dan fungsi otak anak-anak,” imbuhnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.