Kamu pasti seringkali mendengar korban kekerasan seksual didampingi untuk mendapatkan keadilan, tapi ada banyak hal yang nggak diketahui orang biasa yang "sok aktivis" menginginkan posisi tersebut, pendamping penyintas. Padahal nggak semudah itu menjadi pendamping penyintas.

Akhir-akhir ini isu kekerasan seksual sedang marak dan membuat banyak orang yang baru mengetahuinya merasa sanggup dan pantas untuk menjadi pendamping penyintas, sedang menjadi pendamping penyintas ini punya beberapa hal yang harus kamu pahami, inilah "beberapa" hal yang harus kamu pahami sebelum merasa pantas dan sanggup menjadi seorang pendamping penyintas:

1. Menjadi pendengar dan melakukan parafrase

Herstory melansir beberapa sumber dimana, diketahui hasil survei di sebuah kampus bahwa dari 23 responden, 13 persen memilih untuk menunjukkan emosi ketika mendampingi korban kekerasan seksual dan 21,7 persen memilih untuk memberi nasihat ketika mendampingi korban. Adapun 65,2 persen memilih untuk mendengarkan dan melakukan parafrase.

Hal ini nggak menunjukkan jawaban yang benar dan salah, tapi memang sebaiknya yang dilakukan ketika ada korban kekerasan seksual yang datang mengadu adalah mendengar dan parafrase pernyataan mereka. Penting untuk diingat bahwa orang yang mengadu pada kita ini adalah korban kekerasan.

Sering kali korban bercerita melompat-lompat akibat trauma dan takut. Di sinilah sensitivitas pendamping diperlukan dan bertugas pendamping hanya mendengar dan sesekali menanyakan detail soal 5W1H (what, when, where, who, why dan how) yang didapat dengan banyak pertanyaan berulang.

Nggak tepat rasanya ketika mendampingi korban, pendamping malah menasihati dan menyuruh bersabar. Mereka korban kekerasan seksual, bukan cuma seorang teman yang patah hati karena cintanya ditolak atau putus cinta. Menjadi korban kekerasan seksual artinya harkat, martabat, dan harga dirinya direnggut bahkan dinodai. Sebelum sabar, yang namanya korban tentu harus pulih dulu, di sinilah peran pendamping itu penting.

2. Pemulihan untuk korban

Sebanyak 17,4 persen menjawab keadilan untuk korban dan 82,6 persen menjawab pemulihan untuk korban. Enggak ada jawaban yang benar atau salah. Namun mayoritas pendamping akan mengungkapkan bahwa pemulihan untuk korban adalah yang paling penting. Peran pendamping lainnya adalah untuk membantu korban dimana seenggaknya korban dapat berdiri di kakinya sendiri terlebih dahulu.

Selemah-lemahnya iman pendamping adalah mengupayakan pemulihan untuk korban, agar korban mampu membuat keputusannya sendiri dengan didasari akal sehat dan informasi yang cukup (terutama berkaitan dengan risiko). Sebenarnya saat korban belum cukup pulih namun sudah menuju tahap lain, dikhawatir korban akan menjadi bergantung kepada pendamping. Itu akan jadi hal yang melelahkan banget bagi batin baik pendamping maupun korban.

3. Jangan melakukan deadnaming

Deadnaming, menurut SGRC, adalah perilaku melecehkan nama yang dipilih oleh minoritas gender dan mempublikasikan nama lahir mereka dengan tujuan untuk menghina, mencemarkan, hingga ajakan melakukan kekerasan kepada mereka. Enggak ada yang baik saat media mencantumkan nama lahir seseorang bertujuan untuk mengutarakan kebenaran. Melihat berbagai berita bohong di berbagai kanal media, rasanya semuanya setuju kalau nggak seharusnya kita menetapkan identitas seseorang tanpa izin dari mereka. Kalau nggak bisa menghormati identitas gender seseorang, bagaimana kita bisa menjadi pendamping korban kekerasan seksual?

4. Pendamping penyintas bukan ajang validasi diri

SGRC, yang juga menjadi anggota Sisterhood, pada tahun 2018 mengeluarkan penelitian yang akhirnya menjadi landasan para pendamping menangani kasus kekerasan seksual siber (KSS) termasuk penyebaran gambar intim tadi. Penelitian itu menarik perhatian 54 responden yang juga merupakan korban, hanya dalam jarak waktu 10 hari. SGRC saat itu memutuskan nggak menerima pengaduan lagi kalau korban yang terjaring hanya akan menjadi data advokasi tanpa dipulihkan ataupun mendapatkan keadilan.

Saat ini sudah menjamur akun-akun Instagram pendampingan yang menawarkan kelompok dukungan untuk korban kekerasan seksual. Demikian juga setelah kasus Agni di Universitas Gadjah Mada dan kampus-kampus lain, sudah banyak yang ingin menjadi pendamping korban. Sayangnya, bagi sebagian pihak, hal ini malah menjadi ajang pamer kebanggaan, atau ingin dipandang sebagai pahlawan. Padahal menjadi pendamping itu bukan untuk mendapatkan penghargaan dan pujian, tapi tentang bagaimana korban menjadi pulih dan berdaya untuk mengejar keadilannya. Ibaratnya, kita ini cuma sidekick di proses pemulihan korban. Korban yang berhasil sintas adalah pahlawan yang sesungguhnya.

Jadi itulah yang harus kamu pahami sebelum menjadi pendamping penyintas karena ini adalah proses yang panjang. Kebanyakan pendamping malah membujuk korban untuk memproses kasusnya secara hukum ketika korban belum siap, dan lupa pada potensi risiko yang akan terjadi pada korban. Padahal bukan itu tujuannya, melaikan mendampingi korban supaya kesehatan mentalnya bisa kembali pulih.

Baca Juga: Waduh! Kasus Pelecehan Seksualnya Ternyata Cuma Isu, Woojin Eks Stray Kids: Cuma Rumor Aneh!

Jangan lagi mengejar validasi sok pahlawan ketika menjadi pendamping penyintas, justru terlalu memalukan ketika kamu begitu terkenal sebagai pendamping tanpa memahami konteks apa yang harusnya penyintas dapati dari pendampingan. Mereka bukan bahanmu mengejar drama, pengikut dan lampu sorot media atas nama korban, cara itu terlalu pecundang dilakukan oleh manusia yang mengaku dirinya memanusiakan manusia.