Ilustrasi cegukan. (pinterest/freepik)
Gejala virus corona umumnya berupa demam, batuk, dan sesak napas. Namun, baru-baru ini ada laporan bahwa cegukan juga bisa jadi salah satu tanda terinfeksi gejala virus corona. Apakah itu benar?
American Journal of Emergency Medicine menerbitka sebuah laporan kasus yang menunjukkan bahwa cegukan terus-menerus menjadi gejala Covid-19. Dalam laporan kasus, Garrett Prince, MD, dan Michelle Sergel, MD, menjelaskan bahwa ada pria yang berusia 62 tahun alami cegukan hingga 4 hari berturut-turut. Selain itu, cegukan yang dialami oleh pasien membuat berat badannya turun hingga 5,4 kg.
Namun, tampaknya pria ini hanya mengalami cegukan tanpa adanya gejala umum virus corona, seperti demam, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, nyeri dada, atau sesak napas.
Cegukan pada dasarnya adalah kejang diafragma. Dalam kasus ini, diafragma mengacu pada otot yang berada di bawah paru-paru dan biasanya membantu tubuh untuk menarik napas saat otot-otot ini berkontraksi. Mengontraksikan otot-otot ini menurunkan diafragma kemudian memungkinkan paru-paru mengembang dan terisi udara. Otot-otot ini berkontraksi ketika saraf frenikus yang membentang dari leher ke diafragma.
Ketika ini mengiritasi saraf, tentu apat menyebabkan kontraksi tak disengaja pada diafragma dan menyebabkan cegukan. Serangan cegukan yang berkepanjangan mungkin merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang terus mengiritasi atau bahkan merusak saraf frenikus.
Artinya cegukan tak berarti terinfeksi virus corona. Jadi jangan panik saat mengalami cegukan, terutama jika cegukan tersebut dapat diatasi dengan cukup cepat. Ingatlah bahwa banyak hal yang dapat memicu cegukan termasuk mengonsumsi minuman berkarbonasi hingga gangguan sistem pencernaan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.