Untuk kamu yang sudah bekerja, pasti perusahaan kamu memiliki peraturan sendiri yang digunakan untuk mengatur para karyawannya. Tapi bagaimana kalau perusahaan tempat kamu bekerja memiliki peraturan untuk menarik denda apabila berat badan kamu naik?

Menurut artikel yang dilansir (25/08/2020) dari Asia One, sebuah perusahaan fashion Southaven memiliki aturan di mana akan memberikan sanksi untuk kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh para karyawannya salah satu aturannya adalah ketika karyawan naik berat badannya. Hal ini diketahui oleh para karyawan yang pernah bekerja di perusahaan itu.

Keterangan dari karyawan wanita yang berusia 20 hingga 27 tahun diharuskan untuk mengikuti aturan yang dianggap cukup aneh bagi mereka. Seperti harus memberikan laporan mengenai berat badan mereka melalui sebuah grup obrolan di media sosial yang sebelumnya sudah dibuat.

Kalau kamu mengalami penambahan berat badan maka kamu harus membayarkan denda kepada perusahaan tersebut. Kemudian, sanksi lainnya adalah dipekerjakan di gudang sebagai pelayan pelanggan di toko.

Enggak hanya itu saja, jika kamu melanggar aturan kecil lainnya maka kamu harus membayar denda sebesar Rp14 ribu hingga Rp27 ribu seperti enggak menutup bolpoin, lambat ketika mengambil pakaian di ruang ganti, lupa mematikan listrik atau enggak mengisi ulang, menyentuh bagian lain dari pintu selain gagang dan aturan aneh lainnya.

Kemudian, karyawan yang bekerja di sana juga harus memberikan kompensasi kepada perusahaan sebesar Rp874 ribu hingga Rp1,4 Juta jika pakaian kerja mereka rusak atau terkena noda, enggak hanya itu, mereka juga harus melakukan lompat kodok sebanyak 200 kali jika enggak mencapai target penjualan mingguan dari perusahaan.

Yang memperburuk suasana bekerja di sana adalah karyawan yang bekerja di sana harus bekerja lebih dari 12 jam dalam satu hari dengan waktu istirahat yang diberikan selama 10 hingga 20 menit saja! Seorang karyawan yang masih berusia 20 tahun mengaku bahwa dirinya harus mengeluarkan uang hingga ratusan dollar hanya untuk membayar denda yang dia lakukan padahal dia baru bekerja satu bulan di sana.

Setelah lima bulan bekerja dan mulai enggak kuat dengan peraturan aneh tersebut, dia memilih untuk keluar dari perusahaan tersebut. Karyawan lain yang seusia dengannya mengatakan bahwa dirinya harus mengonsumsi produk diet hanya untuk menurunkan berat badan agar enggak terkena denda!

"Saya sering putus asa dan menangis," ungkap karyawan yang tidak disebutkan namanya itu.

Baca Juga: Akhirnya! 2 Jurnalis Australia Bisa Pulang dari Cina Setelah Ditahan

Walaupun demikian, pihak Southaven sendiri telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa semuanya itu adalah inisiatif dari para karyawannya sendiri tanpa ada paksaan. Denda dan hukuman jongkok katak itu diklaim oleh pihak Southaven sebagai pilihan dari para karyawannya sendiri untuk memotivasi diri setelah gagal mencapai target penjualan.