Ilustrasi Anak Makan MPASI (Shutterstock/Edited By HerStory)
Moms saat si kecil mulai GTM, pasti ada perasaan khawatir akan gizinya yang mungkin bisa saja tak terpenuhi, apalagi ditambah jika si kecil pilih-pilih makanan atau yang disebut dengan picky eater pastinya akan buat Moms kebingungan.
Kendati demikian gak usah khawatir karena Psikolog Saskhya Aulia Prima, M.Psi pernah memberikan tipsnya agar si kecil tak lagi jadi picky eater dan semangat untuk makan tiap MPASI yang disajikan.
Tips menghadapi anak sulit makan
Salah satu hal yang penting untuk dilakukan ternyata bagaimana Moms mengenalkan rasa lapar pada si kecil. Dengan begitu, anak pun akan belajar dan memahami bahwa ia membutuhkan asupan makanan untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.
Selain itu, ada 5 poin penting yang perlu Moms ingat dalam rangka mengenalkan rasa lapar dan kebutuhan akan mengonsumsi makanan sehat penting.
1. Jangan memaksakan ya, Moms
Pada dasarnya memang butuh kesabaran orangtua dalam membiasakan makan sehat pada si kecil sejak dini. Memaksakan si kecil mengonsumsi makanan tertentu bisa membuatnya malah menjadi lebih tidak mau makan.
Saat memperkenalkan makanan baru misalnya, sampai si kecil mau menyantapnya tentu saja membutuhkan proses. “Kalau mencoba mengenalkan makanan baru misalnya, biasanya setelah 15 kali percobaan baru berhasil. Biar bagaiman pun anak karakternya bisa beda-beda. Ada anak yang gampang geli melihat makanan karena teksturnya, ada yang mudah terima-terima aja,” ujar Saskhya.
Membangun suasana makan yang bahagia bisa juga membuat si kecil lebih termotivasi untuk makan. Moms bisa membiasakan makan malam bersama keluarga, selain bisa membuatnya lebih bersemangat, bonding antar anggota keluarga juga bisa tercipta.
2. Memvariasikan makanan
Dalam acara yang sama, Eka Herdiana, Corporate Nutritionist Nestlé Indonesia mengungkapkan bahwa prinsip dari menu gizi seimbang ialah bagaimana Moms perlu mencari variasi dan mengombinasikan makanan.
“Pemerintah pun sudah mencanangkan prinsip Isi Piringku yang terdiri atas kombinasi karbohidrat, protein, sayur, dan buah”.
Selain itu, Sashkya mengingetkan agar si kecil lebih bersemangat, Moms juga bisa menyiapkan hidangan si kecil dengan cara menghias menunya. Agar lebih mudah, bisa melihat berbagai tutorial berbagai variasi menghiasnya ini di YouTube.
3. Hindari beberapa kalimat berikut ini
“Makanan ini enak lho/tidak enak lho”
“Cobain deh makanan ini”
“Makan sedikit dulu nih”
Menurut Sashkya, kalimat-kalimat di atas sebaiknya tidak sering dikatakan. Beberapa kalimat di atas justru bisa mendorong si kecil untuk menjadi pemilih makanan .
“Misalnya saja bila orang dewasa sering mengatakan kalimat pertama, sampai ia dewasa bila terus dibiasakan ia hanya akan mengonsumsi makanan yang enak saja, hanya karena rasanya saja. Padahal kita sebagai orangtua tentu ingin ia mengonsumsi sesuatu dengan kesadaran sendiri bahwa makan sesuatu yang sehat lebih penting,” ujar Sashkya.
4. Praktikkan mindful eating
Agar tumbuh kesadaran akan mengonsumsi makanan yang sehat, cobalah lebih sering mengutarakan beberapa kalimat yang merujuk pada konsep mindful eating. Merupakan suatu metode untuk makan dengan penuh kesadaran untuk menikmati seluruh prosesnya menggunakan alat indera.
Cobalah lebih sering mengatakan hal ini.
“Dek… lihat bentuk dan warna makanannya, dulu, deh,”
“Coba cium makanan-makanan ini”
“Pegang tekstur makanan ini, yuk!”
“Waktu dikunyah rasa dan bunyinya seperti apa?”
5. Libatkan si kecil
Melibatkan si kecil dalam setiap proses menyajikan makanan bisa meningkatkan motivasinya untuk makan. Moms bisa melibatkannya mulai dari membeli serta memilih bahan makanan di supermarket, memasak di rumah, hingga menyajikan makanan dengan berbagai variasi.
Bagaimana, Moms tertarik untuk mencoba kiat ini?
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di The Asian Parent
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan The Asian Parent. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.