Aksi unjuk rasa terkait Omnibus Law UU Cipta Kerja masih terus berlanjut dari awal bulan Oktober dan yang terbesar berlangsung Kamis lalu (8/10).

Pada hari Rabu, (14/10) Massa aksi dari Federasi Serikat Pekerja Aneka Indonesia (FSPAI) turun ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap Omnibus Law. Massa aksi berbaju hitam-merah ini bukan hanya terdiri dari buruh, namun ada tambahan peserta aksi yaitu 3 ekor bebek!

Perwakilan dari FSPASI ini menyebutkan bahwa membawa bebek ikut serta turun ke jalan sebagai bentuk satire untuk Presiden Joko Widodo.

"Kenapa kami membawa tiga bebek, sebenarnya kami ingin membawa kurang lebih 13 bebek, hanya kondisi yang tidak memungkinkan maka dari tiga tersebut mewakili dari 13 poin yang sedemikian merugikan kaum buruh," kata Koordinator Lapangan FSPASI, Nurdin kepada wartawan, Rabu (14/10).

Lalu, apa hubungannya bebek dengan unjuk rasa penolakan terhadap Omnibus Law? 

Beberapa waktu lalu, tepat di mana rakyat sedang melakukan demonstrasi di depan gedung Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, beredar foto Presiden Jokowi sedang berada di peternakan bebek di Kalimantan.

"Kami anterin bebek itu. Artinya, dengan bahasa lainnya, maka kata sontoloyo yang diterapkan beliau, jadi sontoloyo itu dalam bahasa Jawa artinya adalah orang angon bebek," lanjut Nurdin.

Selain itu, arti dari membawa bebek saat aksi ini adalah, seseorang yang bisa mengangon bebek, hanya bisa menggiring, tapi enggak bisa mengatur. 

Bebek-bebek yang dibawa oleh ibu-ibu serikat buruh ini sebagai simbol untuk mengingatkan Bapak Presiden bahwa mengurus rakyatnya enggak bisa seperti mengurus bebek.

Meski massa aksi belum berhasil bertemu dengan yang berwenang, tapi bebek tersebut tetap dikirim ke Istana Negara di Jakarta Pusat.

Baca Juga: Ikut Buka Suara Soal Omnibus Law, Marissa Haque: Presiden dan Wapres Nih Enggak Berkonsultasi Dulu?

"Nanti bebek-bebek ini akan dikirim ke istana. Kami kasih bebek ini ke Pak Jokowi," ujar salah satu demonstran.