Istilah gaslighting sedang marak digunakan milenilal belakangan ini. Apa sih gaslighting

Berasal dari film Gaslight tahun 1944, film ini bercerita tentang hubungan yang dilecehkan secara emosional di mana seorang suami secara perlahan memanipulasi istrinya agar percaya bahwa dia menjadi gila. Sejak film tersebut dirilis, istilah tersebut telah digunakan untuk menggambarkan pelecehan berulang dan terus-menerus yang digunakan sebagai alat untuk menggeser dinamika kekuasaan dalam suatu hubungan.

Apa Itu Gaslighting dan Dari Mana Asalnya?

Seperti dalam film Gaslight, gaslighting terjadi ketika seseorang berusaha memanipulasi dan mengendalikan situasi atau hubungan, dan dapat mengakibatkan pelecehan emosional dan psikologis terhadap pasangannya. "Itu adalah taktik yang digunakan untuk membuat seseorang mulai mempertanyakan realitas mereka," jelas Melanie Tsesler saat wawancara bersama popsugar.com,  "itu sering kali membuat mereka merasa seolah-olah mereka bersalah," tambahnya.

Kenapa bisa seseorang melakukan hal ini? 

Melanie menjelaskan bahwa individu menggunakan gaslighting untuk mendapatkan kendali atas suatu hubungan karena mereka mungkin memiliki masalah yang belum terselesaikan seperti trauma masa kanak-kanak, atau narsisme.

Amber Gordon menjelaskan bahwa begitu seorang pasangan memperkenalkan gaslighting ke dalam suatu hubungan dan berhasil menggunakannya sebagai teknik manipulasi, mereka akan melanggengkan sebuah siklus. Itu berarti perilaku gaslighting kemungkinan akan terus berlanjut dan bahkan bisa menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu dan terulang dalam jangka panjang. Namun, terlepas dari dinamika berbeda yang secara alami ada dalam setiap hubungan dan tingkat keparahan gaslighting yang berpotensi terjadi, ada siklus khas yang sering terjadi pada gaslighting.

Siklus Gaslighting

1. Kebohongan dan Tuduhan

Mengenali tanda-tanda gaslighting bisa jadi sulit dalam suatu hubungan, terutama jika ketergantungan kodependensi merupakan faktor yang besar, atau yang kamu sebut dengan 'namanya juga cinta buta.'

Tsesler menjelaskan bahwa siklus umum gaslighting dimulai dengan kebohongan yang digunakan terhadap penuduh. Beberapa contoh yang diberikan oleh Gordan termasuk frasa seperti "Saya tidak pernah mengatakan itu," "Itu salahmu," "Kamu salah mengingat sesuatu," dan, "Maaf kamu merasa seperti ini." Semua komentar ini membantu membongkar perasaan yang sah dari orang yang menerima. Dengan menargetkan tuduhan ini, kesalahan dari masalah tersebut diabaikan, sehingga pelaku dapat terus menggunakan taktik tersebut dalam insiden di masa mendatang.

2. Perilaku Berulang

Karena perilaku yang diterima di masa lalu dalam hubungan tersebut, seperti membiarkan komentar di atas meluncur lebih dari satu kali, Gordon menunjukkan bahwa orang yang sedang memancing pasangannya untuk meningkatkan keparahan perilaku mereka dari waktu ke waktu adalah hal yang umum. Saat pelaku menjadi lebih sering berbuat salah, korban dalam hubungan ini menjadi buta terhadap kejadian mereka. "Seringkali, orang tidak menyadari bahwa gaslighting sedang terjadi, karena itu adalah bentuk manipulasi yang halus dan tidak langsung," kata Gordon. Menutup atau hanya tidak mengidentifikasi bendera merah pada dasarnya memungkinkan perilaku ini berlanjut.

3. Ketidakamanan dan Keraguan Diri

Saat dikonfrontasi, pelaku sering kali membuat korbannya lelah untuk membuat mereka merasa gak aman dan gak mampu. Bagaimana ini berdampak pada korban? Gordan mengatakan bahwa para pekerja gas mempertanyakan parahnya situasi, yang menyebabkan keraguan diri dan dapat mengganggu kesehatan mental mereka. Karena sifat gaslighting, "para korban akan sering mulai percaya bahwa pengalaman mereka enggak valid dan bahwa mereka tidak boleh mempercayai perasaan mereka karena pelaku telah memanipulasi mereka untuk percaya bahwa mereka enggak benar," jelas Gordon.

4. Kepastian dan Kodependensi

Ketika korban mulai menyadari tanda bahaya dalam hubungan mereka, gaslighter biasanya akan luluh dan menghibur pasangannya. Ini adalah titik balik yang memungkinkan siklus terus bekerja. "Korban mendapat sedikit pujian, dan mereka berdua masuk ke dalam kodependensi ini di mana mereka mungkin gak percaya bahwa mereka sudah jadi korban," kata Tseler. "Kebanyakan orang gak sadar bahwa mereka berada dalam pola ini sampai lama setelahnya, mungkin bertahun-tahun dalam pembuatan. Pada saat itu, harga diri mereka biasanya menurun, sehingga mereka percaya bahwa mereka gak layak untuk sesuatu yang lebih baik, jadi mereka tetap mempertahankan hubungan."

Peningkatan kodependensi ini mempersulit individu untuk melepaskan diri dari situasi dan menjauhkan diri dari pasangan gaslighting mereka. Pelaku pun menjadi si pemegang kontrol dalam hubungan.

5. Mempertahankan Kontrol

Siklus terus berlanjut melalui cara untuk menjaga kendali, yang dipertahankan oleh pelaku melalui kebohongan terus menerus sambil memanipulasi. Pada dasarnya pelaku akan menghambat kemampuan mereka untuk meninggalkan hubungan. Dengan melakukan itu, korban tetap enggak berdaya dan terperangkap dalam gelembung keraguan diri dan ketidakamanan.

Baca Juga: Pasanganmu Tipikal Orang yang Pendiam? Lakukan Cara Ini Agar Bisa Terus Mesra!

Boleh sayang, boleh cinta, tapi ingat hal nomor satu yang harus kamu cintai adalah dirimu sendiri!