Menu

Bangun Kepedulian Terhadap Kesehatan Mental, EHFA Bakal Gelar ‘Indonesia Mental Health Movement’, Bisa Screening Gratis Juga Lho!

20 Oktober 2022 19:51 WIB
Bangun Kepedulian Terhadap Kesehatan Mental, EHFA Bakal Gelar ‘Indonesia Mental Health Movement’, Bisa Screening Gratis Juga Lho!

Para narasumber di acara konferensi pers EHFA "Indonesia Mental Health Movement", di Wayang Bistro, Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (20/10/2022). (Riana/HerStory)

HerStory, Jakarta —

Beauty, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental, Emotional Health for All (EHFA) mengadakan Indonesia Mental Health Movement: It Starts and Ends with Us pada 29 Oktober 2022 di The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka Mall Lantal 3. 

Acara ini merupakan kerja sama antara EHFA, Yayasan Kesehatan Umum Kristen (YAKKUM), dan Black Dog Institute. EHFA dan para partner mengajak masyarakat untuk mulai sadar akan pentingnya memprioritaskan kesehatan mental dan mawas diri, karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Topik kesehatan mental sebenarnya semakin terdengar beberapa tahun ini dan membuat orang-orang mulai peduli dengan kesehatan mental. Namun, ternyata permasalahan kesehatan mental di Indonesia dinilai cukup tinggi. 

Dr. Sandersan Onie, selaku Project Leader & Founder EHFA dan President Indonesian Association for Suicide Prevention, mengatakan, berdasarkan penelitian terbaru, pihaknya menemukan bahwa tingkat bunuh diri di Indonesia yang sebenarnya mungkin setidaknya 4 kali lipat dari angka yang dilaporkan.

“Dan jumlah percobaan bunuh diri setidaknya 7 kali lipat dari jumlah tersebut,” kata dia, saat acara konferensi pers EHFA "Indonesia Mental Health Movement" di Wayang Bistro, Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (20/10/2022).

“Data lainnya menunjukkan bahwa hanya terdapat 4.400 psikolog dan psikiater di Indonesia, dengan jumlah populasi lebih dari 250 juta orang. Terkait dengan hal ini, jumlah tenaga kesehatan mental di Indonesia dinilai minim,” sambung pria yang akrab disapa Dr. Sandy itu.

Lebih lanjut, Dr. Sandy mengatakan bahwa kesehatan mental tak mengenal usia, jenis kelamin, agama, ataupun status sosial. Dan, kata dia, semua orang berhak mendapatkan akses layanan dan penanganan kesehatan mental yang tepat. 

Mengenai penanganan masalah kesehatan mental melalui pendekatan agama, Dr. Sandy menjelaskan bahwa ia sering menemukan kejadian diskriminasi yang didasarkan pada keyakinan yang keliru tentang agama.

“Contohnya, orang dianggap memiliki gangguan kesehatan mental akibat imannya kurang, mengalami kesurupan, dan stigma lainnya yang mengabaikan masalah kesehatan mental. Hal ini menyebabkan kemajuan edukasi tentang kesehatan mental sangat lambat,” terangnya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Cemas?

Baca Juga: Lagi Depresi? Atasi dengan Konsumsi 6 Makanan Ini

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.