Menu

Benjolan Tiroid Bisa Diatasi Tanpa Operasi, Begini Penjelasan Dokter

02 Agustus 2025 23:25 WIB

Ilustrasi kelenjar tiroid bermasalah (Shutterstock/Edited By HerStory)

HerStory, Jakarta —

Beauty, apa kamu pernah memeriksakan kelanjar tiroid? Seperti yang kita tahu, kelenjar tiroid dimiliki semua orang namun tak semuanya aktif atau berbahaya. Lantas, apa itu penyakit tiroid? Dijelaskan dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIMSpesialis Penyakit Dalam, Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD,"kondisi medis yang memengaruhi fungsi kelenjar tiroid". 

"Kelenjar ini bentuknya kaya kupu-kupu kecil, di bagian depan leher, persis di bawah jakun,"lanjut dr. Dicky. Kelenjar ini memiliki peran yang sangat penting karena menghasilkan hormon tiroid (terutama tiroksin atau T4 dan triiodothyronine atau T3) yang mengatur banyak fungsi vital dalam tubuh. 

Hormon tiroid berperan dalam:

  • Metabolisme tubuh: Mengatur kecepatan tubuh mengubah makanan menjadi energi.
  • Pertumbuhan dan perkembangan: Penting untuk perkembangan otak dan tubuh yang normal, terutama pada anak-anak.
  • Suhu tubuh: Membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.
  • Fungsi jantung: Memengaruhi detak jantung dan tekanan darah.
  • Fungsi saraf: Berperan dalam fungsi otak dan sistem saraf.
  • Kesehatan kulit, rambut, dan kuku. 

Beauty, pernah mendengar RFA atau Ablasi Radiofrekuensi? Ini merupakan prosedur medis non-bedah yang menggunakan energi panas dari gelombang radiofrekuensi untuk mengecilkan atau menghilangkan benjolan (nodul) tiroid yang jinak. "Caranya tuh jarum kecil dimasukkan ke dalam nodul tiroid dengan panduan USG (ultrasonografi). Ujung jarum  akan menghasilkan energi panas yang menghancurkan sel-sel  tidak normal pada nodul tanpa merusak jaringan tiroid sehat di sekitarnya," ungkap dr. Dicky. 

Teknologi RFA memanfaatkan energi listrik yang diubah menjadi gelombang radiofrekuensi. Gelombang ini dialirkan melalui elektroda pada ujung jarum yang dimasukkan ke dalam target jaringan (dalam kasus ini, nodul tiroid). 

Ketika energi gelombang radiofrekuensi mencapai jaringan, ia menyebabkan getaran molekul air di dalam sel dan menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan inilah yang menyebabkan koagulasi protein dan nekrosis (kematian) sel-sel target. Proses ini dilakukan secara hati-hati dan terukur dengan panduan USG untuk memastikan jarum berada pada jaringan target dan tidak ada nodul yang tersisa. 

Benjolan tiroid jinak (non kanker)

  • Diagnosis Terkonfirmasi

Ini adalah kriteria paling penting. RFA umumnya ditujukan untuk benjolan tiroid yang telah terbukti jinak melalui biopsi (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB). RFA tidak disarankan untuk benjolan yang dicurigai kanker atau yang hasil biopsinya belum jelas.

  •  Jenis Benjolan

RFA paling efektif untuk benjolan tiroid yang padat (solid) atau sebagian besar padat. Untuk benjolan yang berisi cairan (kista), ablasi etanol (ethanol ablation) mungkin lebih dianjurkan. 

Perbandingan RFW dengan Operasi

Sebelum tindakan RFA poluler dilakukan, tindakan yang bisa dilakukan untuk penyakit tiroid yaitu dengan operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid atau yang biasa disebut Tiroidektomi. 

Tindakan pembedahan ini telah menjadi standar penanganan untuk benjolan tiroid yang merupakan tumor ganas, berukuran besar, dan sudah menimbulkan gejala yang mengganggu kualitas hidup pasien. 

Namun, pembedahan memiliki beberapa kekurangan seperti sayatan besar di leher hingga masa pemulihan yang lebih lama. Pasien memerlukan waktu untuk penyembuhan luka dan penyesuaian hormon jika sebagian besar atau seluruh tiroid diangkat. 

Tindakan RFA  memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pembedahan:

  • Target yang spesifik: energi RFA dihantarkan langsung ke dalam nodul dibawah panduan USG, dengan kontrol suhu yang akurat dapat meminimalkan risiko kerusakan jaringan di luar target.
  • Minimal invasif: Tidak memerlukan sayatan besar, hanya tusukan kecil.
  • Bekas luka minimal: Hanya meninggalkan bekas tusukan kecil yang biasanya tidak terlalu terlihat.Waktu pemulihan cepat: Pasien biasanya dapat pulang pada hari yang sama atau keesokan harinya dan segera kembali beraktivitas normal.
  • Mempertahankan fungsi tiroid: Karena hanya nodul yang ditangani, sebagian besar fungsi kelenjar tiroid tetap terjaga, sehingga risiko kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) lebih rendah dibandingkan operasi pengangkatan sebagian atau seluruh tiroid.
  • Dapat diulang: Jika nodul tumbuh kembali, prosedur RFA dapat diulang. 

Meskipun relatif aman, tindakan RFA tetap memiliki risiko minimal, seperti nyeri lokal sementara, memar kecil di area tusukan, atau perubahan suara sementara. Namun, risiko komplikasi serius sangat jarang terjadi jika prosedur dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan