Menu

Konsumen Indonesia Kini Lebih Pilih Belanja Premium Online, Kenapa?

22 September 2025 13:20 WIB

Ilustrasi belanja online (Sumber: Freepik)

HerStory, Jakarta —

Beauty, survei terbaru menunjukkan konsumen e-commerce di Indonesia makin cerdas dan selektif. Sebanyak 6 dari 10 responden mengaku pernah mengalami kendala saat belanja online, terutama pada fase pasca-pembelian. 

Dari jumlah itu, 64% menyebut masalah seperti keterlambatan pengiriman, kesulitan melacak pesanan, hingga layanan pelanggan yang kurang responsif jadi penyebab utama kekecewaan, lho!

Adanya fenomena ini menandai pergeseran tren belanja: harga murah tak lagi cukup. Konsumen kini menuntut pengalaman premium yang menekankan kualitas, kenyamanan, serta kepastian layanan. 

Hal ini ditegaskan oleh Kusumo Martanto, CEO dan Co-Founder Blibli, yang menyebut strategi menghadirkan pengalaman belanja seamless, aman, dan terpercaya telah menjadi pondasi pertumbuhan perusahaan.

“Tahun 2024 menjadi bukti bahwa strategi kami dalam membangun pengalaman belanja yang seamless, aman, dan terpercaya mampu menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Kami terus membuktikan bahwa pendekatan ekosistem omnichannel yang terintegrasi adalah kunci dalam menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya melalui keterangan resmi laporan kuartal II/2025.

Langkah ini diwujudkan lewat perluasan jaringan layanan, mulai dari toko elektronik konsumen, supermarket premium, hingga home and living experience center. 

Konsumen juga bisa memilih fleksibilitas belanja lewat fitur Click & Collect atau Blibli In-Store, serta mendapat keuntungan tambahan lewat program loyalitas.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tercatat lebih dari 47,85 juta konsumen kelas menengah digital savvy di Indonesia. Kelompok ini semakin kritis dalam memilih brand, menuntut keaslian produk, layanan purna jual, dan fleksibilitas dalam bertransaksi. 

Untuk menopang kebutuhan itu, sistem logistik dengan 13 gudang besar juga diperkuat agar distribusi lebih cepat dan akurat.

Pergeseran preferensi konsumen ini juga diamini Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA). Sekretaris Jenderal idEA, Budi Primawan, menjelaskan ada tiga faktor utama yang mendorong tren premiumisasi: konsumen yang lebih sadar kualitas, diferensiasi platform di tengah persaingan harga, serta peluang bagi brand premium untuk menjangkau konsumen digital.

“Konsumen semakin kritis dan sadar kualitas. Mereka cenderung mencari barang yang asli, tahan lama, dan memiliki jaminan resmi, meskipun harganya lebih tinggi. Bagi sebagian segmen, membeli produk premium juga menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri,” jelas Budi.

Tak hanya data resmi, pengalaman ini juga tercermin di media sosial. Akun @bannaberrystar, misalnya, menilai belanja smartphone di platform tertentu lebih unggul karena memberi garansi fisik hingga bonus aksesori. 

Sementara, akun @nakkyuping menyoroti layanan purna jual yang cepat tanggap sebagai faktor utama loyalitasnya.

Dengan tren ini, jelas sudah Beauty, belanja online di Indonesia sedang bergeser. Bukan sekadar mencari harga murah, tapi juga jaminan kualitas dan rasa aman jangka panjang.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan