Menu

Sering Sakit Kepala? Waspadai Gejala Tumor Otak Beauty!

20 Juni 2026 22:23 WIB

Ilustrasi sakit kepala. (Freepik/nakaridore)

HerStory, Jakarta —

Beauty, sakit kepala memang menjadi keluhan yang umum dialami banyak orang. Namun, jika nyeri kepala muncul terus-menerus, semakin berat, dan disertai gangguan lain seperti pandangan kabur, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena bisa menjadi salah satu gejala tumor otak.

Pesan itu disampaikan dalam kegiatan Media Gathering bertajuk “Tumor Otak dan Tatalaksananya” yang digelar RS Premier Bintaro. Dalam kesempatan tersebut, Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet R, Sp.BS, mengingatkan pentingnya mengenali gejala neurologis yang berlangsung kronis dan progresif agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Menurut dr. Evodia, masih banyak masyarakat yang menganggap tumor otak selalu identik dengan kondisi ganas. Padahal, berdasarkan data internasional, sekitar 72% tumor otak primer bersifat jinak, sementara 28% lainnya bersifat ganas.

Meski demikian, baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat menimbulkan risiko serius. Hal ini karena tumor berada di dalam rongga kepala yang memiliki ruang terbatas sehingga dapat menekan jaringan otak dan mengganggu berbagai fungsi vital tubuh.

Salah satu gejala yang paling sering muncul adalah nyeri kepala kronis yang semakin memberat. Kondisi ini kerap disertai pandangan kabur dan tidak membaik seperti sakit kepala biasa.

Selain sakit kepala, terdapat sejumlah tanda lain yang perlu diwaspadai, di antaranya:

  • Nyeri kepala kronis yang semakin memberat dan disertai pandangan kabur;
  • Kejang pertama kali pada usia dewasa;
  • Gangguan keseimbangan dan koordinasi;
  • Kelemahan pada tangan atau kaki;
  • Penurunan pendengaran;
  • Perubahan kepribadian;
  • Muntah menyemprot dan penurunan kesadaran.

Menurut dr. Evodia, tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama. Pertama adalah tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak. Kedua adalah tumor sekunder atau metastasis yang merupakan penyebaran kanker dari organ lain, seperti payudara, paru-paru, dan tiroid.

Pada kondisi tertentu, tumor otak bahkan dapat berkembang menjadi kegawatdaruratan medis. Kondisi seperti hidrosefalus atau penumpukan cairan otak, serta perdarahan pada tumor, membutuhkan penanganan segera untuk mencegah kerusakan otak permanen hingga kematian.

Untuk memastikan diagnosis, pasien umumnya memerlukan pemeriksaan CT Scan dan MRI dengan kontras. Pemeriksaan tanpa kontras, menurut dr. Evodia, belum tentu mampu menggambarkan keberadaan tumor secara optimal.

Kabar baiknya, perkembangan teknologi medis telah menghadirkan berbagai pilihan terapi untuk tumor otak. Penanganan dapat dilakukan melalui terapi medikamentosa, operasi bedah saraf, radioterapi, hingga kemoterapi pada kasus tertentu.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Gamma Knife Radiosurgery, yakni prosedur tanpa sayatan operasi yang memanfaatkan radiasi terfokus untuk mengendalikan pertumbuhan tumor, terutama pada tumor berukuran kecil. Metode ini hanya memerlukan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi.

Melalui edukasi ini, masyarakat diingatkan untuk tidak mengabaikan gejala neurologis yang berlangsung lama dan semakin memburuk. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan terapi sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.

Artikel Pilihan