Menu

Kembali Bekerja, Mengapa Banyak Ibu Berhenti Menyusui?

28 Juni 2026 21:47 WIB

Ibu Menyusui (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Moms, kembali bekerja setelah cuti melahirkan masih menjadi tantangan besar bagi banyak ibu untuk mempertahankan pemberian ASI eksklusif. Berdasarka data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan sebanyak 45% ibu di Indonesia berhenti menyusui karena harus kembali bekerja. Keterbatasan waktu, minimnya ruang laktasi, hingga sulitnya menemukan tempat yang nyaman untuk memerah ASI menjadi penyebab yang paling sering ditemui.

Fenomena tersebut muncul seiring meningkatnya jumlah perempuan yang aktif di dunia kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia mencapai 56,63% pada Agustus 2025, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Tren serupa juga terjadi secara global, sehingga semakin banyak perempuan yang menjalani peran sebagai ibu sekaligus profesional.

IDAI juga mencatat masih ada ibu yang terpaksa memerah ASI di tempat yang kurang layak demi tetap memenuhi kebutuhan buah hati. Kondisi ini membuat perjalanan menyusui kerap terhenti ketika masa cuti melahirkan berakhir.

Situasi tersebut turut menjadi perhatian TNP Group saat meluncurkan pompa ASI wearable Momcozy Air 1 dalam ajang Mommy & Me di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan. 

CEO TNP Group James Chou mengatakan inovasi teknologi diharapkan dapat membantu ibu bekerja tetap memberikan ASI tanpa harus mengorbankan aktivitas profesionalnya.

"Air 1 adalah pompa ASI yang menjawab tantangan para ibu bekerja: tetap dapat memberikan ASI terbaik bagi buah hati mereka tanpa harus mengorbankan profesionalitas di tempat kerja. Inilah wujud nyata misi kami—menghadirkan inovasi yang memberi para ibu kebebasan, kepercayaan diri, dan kendali penuh atas hari-hari mereka," ujar James Chou.

Dalam sesi diskusi pada peluncuran tersebut, Desyntia Inten Dwi Lestari Konselor Menyusui juga menegaskan bahwa ibu tidak perlu khawatir jika harus memberikan ASI perah kepada bayi. 

Menurutnya, dari sisi nutrisi, ASI yang diberikan melalui proses memerah tetap memiliki manfaat yang sama dengan menyusui secara langsung.

"Sebetulnya kalau dari segi kesehatan sih enggak ada, ya. Sama-sama bernutrisi. Intinya mau dia DBF maupun pumping sebetulnya sama-sama bernutrisi," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa persiapan menyusui tidak hanya berkaitan dengan perlengkapan, tetapi juga kesiapan mental ibu sejak masa kehamilan. Perubahan hormon setelah melahirkan dapat memengaruhi kondisi emosional, sehingga ibu dianjurkan mulai mempelajari teknik perlekatan, posisi menyusui, hingga memilih alat pendukung yang sesuai dengan kebutuhan apabila berencana memerah ASI.

Untuk mendukung mobilitas ibu bekerja, perangkat pompa ASI kini juga dilengkapi berbagai fitur yang memudahkan proses memerah ASI, seperti desain yang lebih ringkas, pengaturan melalui aplikasi, pemantauan produksi ASI secara real-time, hingga baterai yang dapat digunakan selama beberapa hari. Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu ibu tetap menjalani perjalanan menyusui dengan lebih nyaman meski telah kembali beraktivitas di tempat kerja.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan