Menu

Saat Anak Minta Mandiri, Orang Tua Hadapi Dilema Baru

06 Juli 2026 01:30 WIB

Kedekatan seorang ibu dan anak remajanya. (Pinterest/Freepik)

HerStory, Jakarta —

Beauty, saat anak mulai beranjak remaja, keinginan untuk bepergian sendiri menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang sulit dihindari. Mulai dari berangkat sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga bertemu teman, remaja membutuhkan ruang untuk belajar mandiri. 

Namun, bagi banyak orang tua, memberikan kebebasan tersebut bukanlah keputusan yang mudah karena kekhawatiran akan keamanan anak selama perjalanan masih menjadi perhatian utama.

Kondisi ini tercermin dari hasil Survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2024. Sebanyak 63 persen remaja Indonesia berusia 13–18 tahun masih berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi atau diantar orang tua. 

Sementara itu, hanya sekitar 7,7 persen yang menggunakan transportasi umum secara mandiri, termasuk taksi online atau layanan ride-hailing. Data tersebut menunjukkan bahwa perjalanan mandiri belum menjadi kebiasaan bagi sebagian besar remaja di Indonesia.

Menurut Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank Grab Indonesia, Asep Haekal, proses membangun kemandirian memang membutuhkan waktu dan kepercayaan dari kedua belah pihak.

"Kemandirian remaja tidak terjadi dalam satu hari. Ada proses membangun kepercayaan antara orang tua dan anak, dan teknologi dapat membantu menjembatani proses tersebut. Melalui GrabKeluarga Fitur Remaja, kami ingin membantu keluarga memberi ruang bagi anak untuk belajar bepergian mandiri, dengan tetap menghadirkan lapisan keamanan, pemantauan, dan komunikasi yang membuat orang tua lebih tenang," ujar Asep.

Beauty, bertambahnya usia membuat remaja mulai belajar mengambil keputusan sendiri dan lebih peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan komunikasi yang terbuka, batasan yang disepakati bersama, serta pendampingan yang disesuaikan dengan kesiapan anak.

Psikolog Keluarga Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, menilai rasa khawatir yang dirasakan orang tua merupakan hal yang wajar.

"Saat remaja mulai meminta lebih banyak kebebasan, orang tua tetap perlu hadir untuk mendampingi proses tersebut sesuai dengan usia dan kesiapan anak. Pendampingan juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, seperti GrabKeluarga Fitur Remaja, yang membantu orang tua tetap terinformasi tanpa mengurangi ruang bagi remaja untuk belajar mandiri," ujar Pritta.

Pengalaman serupa juga dirasakan aktor Tora Sudiro sebagai orang tua. Menurutnya, memberikan kepercayaan kepada anak selalu dibarengi rasa khawatir karena tidak bisa mendampingi setiap saat.

"Kami ingin anak belajar mandiri dan punya ruang untuk berkembang, tetapi di saat yang sama tetap ada rasa khawatir ketika tidak bisa selalu mendampingi anak secara langsung. GrabKeluarga Fitur Remaja sangat membantu saya untuk tetap terinformasi dan memantau perjalanan anak dengan lebih tenang, di mana pun saya berada," ujar Tora.

Untuk mendukung proses tersebut, Grab menghadirkan GrabKeluarga Fitur Remaja yang dilengkapi berbagai fitur pendampingan digital, seperti PIN Verification untuk memastikan anak masuk ke kendaraan yang tepat, Trip Monitoring dan Three-Way Chat agar orang tua tetap dapat memantau perjalanan, serta Emergency Help dan Always-on AudioProtect pada layanan GrabCar. Selain itu, tersedia pula fitur Book on Behalf dan Family Payment Method yang memudahkan orang tua mengatur perjalanan anak.

Sejak diluncurkan pada Desember 2025, GrabKeluarga telah digunakan lebih dari 70 ribu pengguna untuk memesan dan memantau perjalanan anggota keluarga melalui satu aplikasi. Kehadiran layanan ini juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai salah satu upaya menghadirkan ekosistem mobilitas yang lebih aman bagi anak, remaja, dan keluarga di tengah semakin dekatnya kehidupan sehari-hari dengan teknologi digital.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Top Stories

Artikel Pilihan