Menu

Museum Bahari Hadirkan Pameran 'Suara dari Muara', Angkat Kisah Perempuan Muara Angke

06 Juli 2026 21:46 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Museum Bahari menghadirkan pameran "Suara dari Muara" yang mengajak publik mendengar kisah-kisah perempuan Muara Angke melalui foto-foto yang mereka abadikan sendiri. Pameran ini berlangsung hingga 31 Juli 2026 dan mengajak masyarakat melihat kembali hubungan Jakarta dengan laut melalui cerita komunitas pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas kota.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Georgetown University School of Foreign Service in Asia-Pacific (GSAP), Museum Bahari, Yayasan Riset Visual mataWaktu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Climate Reality Indonesia. Melalui perpaduan cerita, fotografi, dan instalasi seni, pengunjung diajak memahami lebih dekat kehidupan masyarakat pesisir Jakarta.

Sebanyak 20 perempuan Muara Angke terlibat dalam pameran ini melalui metode Photovoice, yakni pendekatan yang memungkinkan peserta mendokumentasikan kehidupan mereka sendiri menggunakan fotografi. Berbagai potret keseharian yang ditampilkan mencakup aktivitas di kampung nelayan, peran perempuan dalam menopang keluarga, hubungan dengan laut, hingga harapan mereka terhadap masa depan komunitas pesisir.

Melalui proses tersebut, para peserta menyusun narasi yang merepresentasikan keseharian, tantangan, dan harapan masyarakat pesisir Jakarta dari sudut pandang mereka sendiri.

Kurator Suara dari Muara dari Yayasan Riset Visual mataWaktu, Gunawan Widjaja, mengatakan metode Photovoice memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman hidup secara autentik.

"Ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati. Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari," ujar Gunawan.

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan pameran, Museum Bahari berharap kegiatan ini dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai warisan maritim Jakarta yang tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga masyarakat yang hingga kini hidup dan bergantung pada laut.

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Misari, mengatakan Museum Bahari ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di kawasan pesisir.

"Museum Bahari ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di sekitar pesisir Jakarta. Melalui Suara dari Muara, kami mengajak pengunjung untuk datang, mendengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini," ujarnya.

Selain menampilkan hasil dokumentasi melalui Photovoice, pameran ini juga menghadirkan instalasi seni karya dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang dibuat menggunakan cangkang kerang hijau dari Muara Angke. Material tersebut diolah menjadi karya yang merefleksikan kreativitas masyarakat pesisir sekaligus hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

Pengalaman pengunjung juga diperkaya dengan dokumentasi visual dari Climate Reality Indonesia yang memberikan gambaran lebih luas mengenai kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.

Pembukaan pameran turut dimeriahkan melalui Pesta Rakyat yang menghadirkan suasana khas kampung pesisir, mulai dari jajanan tradisional, pertunjukan seni, hingga berbagai aktivitas kebersamaan yang mempertemukan warga Muara Angke dengan masyarakat Jakarta.

Prof. Elle Wibisono, Technical Director and Research Fellow at the Blue Lab (Georgetown SFS Asia Pacific), mengatakan Pesta Rakyat menjadi bentuk perayaan bagi masyarakat pesisir yang selama ini jarang mendapat ruang untuk menyuarakan pengalaman mereka.

"Pesta Rakyat ini bukan hanya selebrasi pembukaan pameran, tapi juga perayaan dari dan untuk masyarakat pesisir Jakarta yang sudah terlalu lama suaranya tidak didengar. Ketika kami mulai merancang proyek ini, kami tidak tahu sama sekali seperti apa hasilnya. Namun, para ibu-ibu Muara Angke telah menunjukkan kegigihan dan semangat yang luar biasa. Hari ini merupakan hari mereka," katanya.

Salah satu peserta pameran sekaligus Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Muara Angke, Nurweni, berharap karya-karya yang dipamerkan dapat membantu masyarakat memahami kehidupan perempuan pesisir dari sudut pandang yang lebih dekat.

"Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat melihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar," ujarnya.

Pameran Suara dari Muara dapat dikunjungi di Museum Bahari mulai 4 hingga 31 Juli 2026. Selain menikmati rangkaian foto dan instalasi seni, pengunjung juga diajak mendengar berbagai kisah yang lahir dari pengalaman nyata perempuan Muara Angke sebagai bagian dari perjalanan dan warisan maritim Jakarta. 

Artikel Pilihan