Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, orang tua umumnya disibukkan dengan menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak, mulai dari seragam, tas, hingga buku pelajaran. Namun, di balik persiapan tersebut, perlindungan terhadap demam berdarah dengue (DBD) juga dinilai penting untuk menjadi perhatian, mengingat anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan mengalami dampak serius akibat penyakit tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI periode 2018–2025, kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok usia 5–14 tahun. Sementara itu, kelompok usia 15–44 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus dengue terbanyak atau mencapai 42 persen dari seluruh kasus pada 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa dengue dapat menyerang semua kelompok usia, namun dampaknya terhadap anak memerlukan perhatian khusus.
Momentum tahun ajaran baru yang berdekatan dengan Hari Anak Nasional 2026 bertema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" juga menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan anak merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar dan tumbuh kembang mereka. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, serta berbagai elemen masyarakat.
Dokter sekaligus kreator konten, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, menurutnya, risiko penularan penyakit tersebut tetap ada sepanjang tahun.
"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," ujar dr. Ikhsan.
Ia menjelaskan bahwa DBD disebabkan oleh virus dengue yang terdiri dari empat serotipe, yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut aktif terutama pada pagi dan sore hari, sehingga anak tetap berisiko terpapar ketika beraktivitas di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar. Selain itu, sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, dan sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala.
Menurut dr. Ikhsan, risiko tersebut menjadi semakin penting diperhatikan ketika anak kembali bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan di rumah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah, seperti memastikan tidak ada genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mendorong penerapan 3M Plus oleh seluruh warga sekolah.
Ia juga mengingatkan bahwa seseorang yang pernah terkena DBD belum tentu kebal terhadap penyakit tersebut.
"Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga sebelumnya pernah terkena dengue," jelasnya.
Selain belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan dengue, dr. Ikhsan mengingatkan orang tua agar tidak lengah ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah fase tersebut.
"Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," tegasnya.
Tidak hanya berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat mengganggu aktivitas belajar anak. Demam, nyeri tubuh, mual, muntah, hingga kelelahan dapat membuat anak harus absen dari sekolah dan tertinggal pelajaran. Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih dapat mengalami kelelahan selama beberapa minggu.
Di sisi lain, penyakit ini juga membawa konsekuensi ekonomi bagi keluarga. Studi Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp9 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,5 triliun ditanggung langsung oleh pasien dan keluarga melalui pengeluaran pribadi serta kehilangan pendapatan, termasuk ketika orang tua harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak yang sakit.
Untuk itu, dr. Ikhsan menekankan pentingnya menerapkan pencegahan secara menyeluruh.
"Perlindungan dari DBD tidak cukup hanya dengan satu cara. Penerapan 3M Plus tetap perlu dilakukan secara konsisten, mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menampung air, hingga menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak maupun anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria mendapatkan vaksinasi dengue.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menilai perlindungan terhadap DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak. Karena itu, perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten. Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya," tutup Andreas.