Menu

Di Tengah Beauty Standard yang Terus Berubah, Felicya Angelista Lewat Scarlett Ajak Perempuan Lebih Percaya Diri

06 Agustus 2026 13:36 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Di tengah derasnya arus media sosial, rasa percaya diri perempuan masih kerap dipengaruhi oleh standar kecantikan yang terus berubah. Komentar negatif hingga ekspektasi untuk selalu tampil sempurna menjadi tantangan yang masih banyak dihadapi perempuan Indonesia dalam menerima diri mereka apa adanya.

Co-Founder Scarlett, Felicya Angelista, menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perempuan membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan dukungan positif, bukan sekadar penilaian terhadap penampilan.

"Menurutku, tantangan terbesar yang masih dihadapi oleh perempuan Indonesia terkait kepercayaan diri adalah dimana kepercayaan diri sangat dipengaruhi oleh beauty standard di sosial media. Dan, beauty standard di sosial media sendiri juga berubah-ubah. Jadi mungkin sebenarnya, di dalam diri kita sebagai perempuan sudah percaya diri nih, tapi saat kita share misalkan foto/selfie di sosial media pasti ada aja komentar yang tidak sesuai harapan kita, jadinya gak percaya diri lagi," ujar Felicya kepada Herstory, dikutip Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, Scarlett ingin menjadi bagian dari support system bagi perempuan agar dapat membangun rasa percaya diri tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain. Ia menekankan bahwa kecantikan tidak hanya berasal dari penampilan luar, tetapi juga dari dalam diri seseorang.

Selama delapan tahun berkembang, Scarlett juga berupaya menjaga relevansinya melalui Scarlett Beauty Ecosystem, sebuah ekosistem yang dirancang untuk menghubungkan brand dengan konsumen secara menyeluruh sekaligus membantu perusahaan beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Felicya menjelaskan, melalui ekosistem tersebut Scarlett aktif mendengarkan kebutuhan konsumen melalui riset, komunitas, serta masukan dari Scarlett Skin Clinic+. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim Research and Development (R&D) bersama para dokter dalam merumuskan solusi yang relevan, mulai dari produk perawatan di rumah hingga layanan profesional di klinik.

Ia menambahkan bahwa suara konsumen memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan di perusahaan. Menurutnya, konsultasi yang dilakukan di Scarlett Skin Clinic+ menjadi bagian dari riset internal untuk memahami kebutuhan serta kondisi kulit konsumen.

"Insight dari konsumen menjadi salah satu landasan penting dalam proses pengambilan keputusan di Scarlett, khususnya dalam penyempurnaan pengalaman bagi konsumen," kata Felicya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada masukan konsumen, tetapi juga dipadukan dengan data dan hasil riset agar tetap berpusat pada kebutuhan pengguna.

Selain menghadirkan produk kecantikan, Scarlett juga menjalankan berbagai program sosial melalui Scarlett Beauty Impact. Menurut Felicya, sejak awal ia ingin membangun Scarlett sebagai brand yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, Scarlett Beauty Impact memiliki dua fokus utama, yaitu women empowerment melalui edukasi, pelatihan, dan pengembangan komunitas bagi perempuan, serta community livelihood yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai inisiatif sosial, seperti program umrah, food truck, dan kegiatan lainnya.

Ke depan, Felicya berharap Scarlett dapat terus menjadi bagian dari perjalanan perempuan Indonesia dalam membangun rasa percaya diri sekaligus membuka lebih banyak kesempatan agar masyarakat menjadi lebih berdaya dan mandiri.

"Aku berharap setiap program yang dijalankan bukan cuma memberi manfaat sesaat, tapi juga bisa membantu banyak orang bertumbuh, lebih percaya diri, dan punya peluang yang lebih baik kedepannya. Karena buat aku, impact yang baik adalah impact yang bisa dirasakan secara nyata dan berkelanjutan," tutup Felicya. 

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan