Ilustrasi keretakkan rumah tangga dengan melepaskan cincin pernikahan. (Freepik/Edited By HerStory)
Banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk melakukan pernikahan dini, bahkan ini kerap terjadi di beberapa daerah. Tanpa di sadari, menikah di usia yang terbilang remaja rupanya membawa dampak yang kurang baik untuk keharmonisan rumah tangga.
Dilansir dari GenPI.co, menurut dr. Utami Roesli, SpA, ketidaksiapan secara fisik dan mental pada ibu yang hamil di usia remaja mengakibatkan berbagai tantangan selama proses tersebut, mulai dari kehamilan hingga melahirkan.
Bukan hanya itu saja, bahkan di bawah ini terdapat 3 risiko kehamilan yang mungkin bisa dialami ibu yang hamil saat usia remaja. Simak ulasannya dilansir dari GenPI.co.
Organ reproduksi pada usia remaja memang sudah berfungsi, namun kematanganya belum sempurna seperti orang dewasa. Ini yang menyebabkan kehamilan diusia remaja rentan alami keguguran.
Pada masa kehamilan usia remaja ini memiliki risiko tinggi untuk terkena gangguan anemia kronis. Terbaginya kebutuhan zat besi utnuk diri sendiri dan bayi bisa menyebabkan remaja putri alami lemas bahkan sampai pingsan.
Bahkan kejadian anemia saat hamil ini bisa meningkatkan risiko bayi lahir secara prematur dan sulit dalam proses kehamilan.
Seperti yang diketahui, kebutuhan gizi anak dimulai sejak 1.000 HPK atau saat kehamilan hingga usia 2 tahun. Pada kehamilan ini remaja bisa menyebabkan bayi lahir dengan risiko stunting lebih tinggi karena umumnya remaja belum bisa memperoleh edukasi secara menyeluruh mengenai kehamilan dan perawatan gizi si kecil.
Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.