Menu

Asli Gak Nyangka, 6 Faktor Risiko Tak Biasa Ini Ternyata Bisa Memicu Penyakit Jantung, Nomor 5 Pasti Kesukaan Kamu Nih Beauty!

05 Agustus 2022 11:35 WIB

Ilustrasi serangan jantung. (Pinterest/Edited by HerStory)

HerStory, Bogor —

Beauty, di dunia sekarang ini, mempertahankan gaya hidup sehat sangat menantang, itulah sebabnya penyakit jantung telah menjadi salah satu pembunuh nomor satu baik pada pria maupun wanita.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular (CVDs) adalah penyebab utama kematian secara global, terhitung sekitar 17,9 juta jiwa per tahun.

Penyakit jantung dapat mencakup berbagai kondisi termasuk penyakit pembuluh darah, seperti penyakit arteri koroner dan masalah irama jantung yang disebut aritmia. Penyakit katup jantung dan gagal jantung juga merupakan dua jenis penyakit jantung yang paling umum.

Terpelas dari kebiasaan diet yang tak sehat, kurangnya aktivitas fisik dan kondisi tertentu yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung, ada beberapa faktor risiko yang tidak biasa untuk penyakit jantung, yang mungkin belum pernah kamu dengar, Beauty. Apa saja? Dikutip dari Times of India, berikut ulasannya.

Ketinggian tempat tinggal

Menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology mengklaim bahwa mereka yang tinggal di ketinggian (antara 457 dan 2.297 meter) memiliki risiko lebih rendah terkena faktor risiko penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas daripada mereka yang yang tinggal di permukaan laut.

Selain itu, ada klaim bahwa karena tingkat oksigen yang rendah di ketinggian yang lebih tinggi, orang didorong untuk menggunakan jantung dan paru-paru mereka secara maksimal dan efisien.

Jumlah anak 

Sesuai sebuah penelitian di jurnal Circulation, wanita yang hamil lebih dari satu kali berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung yang disebut fibrilasi atrium, juga dikenal sebagai a-fib. 

Kondisi ini mengacu pada irama jantung yang tidak teratur dan seringkali sangat cepat (aritmia) yang dapat menyebabkan pembekuan darah di jantung, meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan komplikasi terkait jantung lainnya.

Kebiasaan merokok elektronik (vaping)

Banyak yang percaya bahwa vaping atau merokok rokok elektronik tak berbahaya dibanding merokok rokok asli. Jika kamu mengikuti teori ini, kamu harus mempertimbangkannya. 

Karena menurut editorial di JAMA, rokok elektrik memang mengandung bahan kimia seperti formaldehida dan aseton, yang dikatakan mempengaruhi pengaturan tekanan darah sehingga dapat menyebabkan pembekuan darah dan mempercepat penumpukan plak di arteri.

Kualifikasi pendidikan

Menurut sebuah penelitian di Australia tahun 2016 yang diterbitkan dalam International Journal for Equity in Health, semakin tinggi berpendidikanmu, maka semakin kecil kemungkinan kamu untuk mengembangkan risiko penyakit jantung.

Menurut para peneliti, mendapatkan pendidikan yang baik, menghabiskan lebih banyak waktu dengan buku mempengaruhi orang tersebut untuk memilih lingkungan yang lebih sehat untuk ditinggali, pekerjaan yang lebih baik dan yang paling penting, mendorong seseorang untuk memilih gaya hidup yang lebih sehat.

Kebiasaan streaming film

Platform OTT telah mengambil alih dunia, dengan jutaan orang berlangganan layanan streaming yang berbeda. Jelas ini telah menjadi hal besar baru di dunia hiburan dan orang-orang pun bisa mengaksesnya dengan mudah.

Kamu mungkin berpikir tidak ada masalah saat melakukan aktivitas fisik yang berkepanjangan seperti menonton streaming film  berturut-turut, tapi nyatanya ituda dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, tutur American Heart Association (AHA).

Kerutan dahi

Menurut penelitian pendahuluan yang dipresentasikan pada konferensi tahunan European Society of Cardiology 2018, garis dahi yang lebih dalam, tidak cocok untuk usiamu, dapat mengindikasikan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

"Kami mengeksplorasi kerutan dahi sebagai penanda karena sangat sederhana dan visual. Hanya dengan melihat wajah seseorang bisa membunyikan alarm, lalu kami bisa memberikan saran untuk menurunkan risiko," tutur Penulis studi Yolande Esquirol.

Tetap jaga kesehatanmu selalu, ya Beauty!

Artikel Pilihan