Ilustrasi virus corona. (pinterest/freepik)
Seiring berjalannya waktu semakin banyak orang yang didiagnosis dengan COVID-19. Dengan begitu, muncul pertanyaan tentang berapa lama kekebalan atau antibodi terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit COVID-19 ini.
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa tingkat antibodi pada pasien yang pulih mulai berkurang sekitar tiga bulan sejak pasien tersebut pertama kali mengalami gejala. Namun, berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Science para peneliti di Icahn School of Medicine di Mt. Sinai melaporkan bahwa antibodi dapat bertahan selama lima bulan.
Para ilmuwan menganalisis plasma darah, yang mengandung sel kekebalan termasuk antibodi, dari lebih dari 30.000 orang yang sakit COVID-19 antara bulan Maret dan Oktober. Mayoritas pasien yang pulih mengalami gejala ringan hingga sedang dan tak dirawat di rumah sakit. Hampir setengah dari responden menghasilkan antibodi tingkat tinggi.
Antibodi ini kemungkinan besar dibuat oleh sel-sel kekebalan di sumsum tulang. Ini bertugas untuk menjaga sistem kekebalan agar tetap tersedia dengan sel-sel pertahanan guna melindungi tubuh dari paparan penyakit.
Meski begitu, Ania Wajnberg, profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Icahn di Mt. Sinai dan penulis utama makalah baru ini mengimbau pasien yang telah pulih dari infeksi COVID-19 untuk tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan agar tak kembali jatuh sakit.