Menu

Takut Buat Mencintai?? Bisa Jadi Kamu Kena Philophobia

Witri Nasuha
09 Januari 2020 17:00 WIB
Takut Buat Mencintai?? Bisa Jadi Kamu Kena Philophobia

Broken Heart (Unsplash/Kelly Sikkema)

HerStory, Jakarta —

Ngomong-ngomong soal cinta, cinta itu adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada dua insan untuk saling mencintai, memiliki, memberikan kasih sayang, hingga saling pengertian satu sama lain. Cinta terkadang datang tanpa sengaja, tanpa mengenal waktu, dan enggak bisa dipaksakan begitu saja.

Saat rasa cinta hadir, kebahagiaan pun menghampiri. Namun, enggak bagi mereka pengidap philophobia. Bisa dikatakan, bagi mereka cinta adalah hal kecil yang dapat membuat hidup mereka hancur.

Apa sih philophobia? Mengutip dari laman Wikipedia.org, Philo bermakna ‘tercinta atau mencintai” sedangkan phobia memiliki arti “takut”, jika dikaitkan merujuk pada arti takut jatuh cinta dan menjalin cinta dengan seseorang.

Philophobia adalah ketakutan akan cinta atau terhubung secara emosional dengan orang lain. Ketakutan yang mereka alami cenderung enggak masuk akal, bahkan dapat menimbulkan gejolak emosi yang kuat ketika mulai mencoba mencintai seseorang kembali.

Banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami philophobia, salah satunya pernah mengalami trauma dalam hal perinctaan pada masa lalu. Enggak cuma itu Beauty, fobia jenis ini juga dapat ditimbulkan akibat perceraian orang tua, lho! 

Mereka menyaksikan kedua orang tua bertengkar atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hingga akhirnya membuat mereka enggan membuat komitmen yang lebih serius dengan orang lain.

Apa aja sih gejalanya?

Melansir dari laman Healthline, gejala philophobia itu bervariasi pada setiap individu. Mereka dapat memasukkan reaksi emosional dan fisik ketika berpikir untuk jatuh cinta kembali. Gejala umum diantaranya ialah, perasaan takut yang intens atau panik, menghindar, berkeringat, detak jantung yang cepat, hingga sulit bernafas.

Philophobia memiliki beberapa kesamaan dengan Disinhibited Social Engagement Disorder atau DSED, kelainan yang melekat pada anak-anal di bawah usia 18 tahun. DSED mempersulit seseorang untuk membentuk hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang lain, yang biasanya diakibatkan oleh trauma masa kecilnya.

Scott Dehorty seorang Direktur Eksekutif di Maryland House Detox, Delphi Behavioral Health Group mengatakan, beberapa risiko akan terjadi pada pengidap philophobia. Jika pengidap sangat terluka atau ditinggalkan sebagai seorang anak, mungkin mereka enggan menjadi dekat dengan seseorang yang mungkin akan melakukan hal yang serupa.

Baca Juga: Waw! Ini 6 Langkah Tepat untuk Menjaga Kesehatan Mental

Bisa disembuhin enggak?

Beberapa cara pengobatan dapat dilakukan untuk pemulihan philophobia yang dialami oleh penderitanya. Diantaranya ialah terapi, memberikan obat tertentu, hingga perubahan gaya hidup.

1.    Terapi

Melakukan terapi perilaku kognitif atau CBT. Terapi ini dapat membantu penderita mengatasi ketakutan mereka. CBT melibatkan mengidentifikasi dan mengubah pikiran negatif, kepercayaan, dan reaksi terhadap sumber fobia (dia yang telah menoreh luka mendalam bagi penderita).

2.    Memberikan obat tertentu

Dalam beberapa kasus, seorang dokter mungkin memberikan resep kepada penderita berupa obat antidepresan atau anti-ansietas jika ada masalah kesehatan mental lain yang terdeteksi.

3.    Perubahan gaya hidup

Bagi penderita dianjurkan untuk merubah pola hidup mereka. Seperti sering melakukan olahraga, teknik relaksasi yang dapat mengalihkan perhatian mereka. Dengan begitu sedikit demi sedikit perasaan takut yang dideritanya akan hilang.

Nah Beauty, itu tadi seputar philophobia yang perlu kamu tahu. Kamu pernah mengalami atau sedang ada di tahap ini? Kalau iya, cepet-cepet minta bantuan dokter ya!

Share Artikel: