Ilustrasi self-harm (Pexels)
Beauty, hidup emang penuh dengan tantangan ya. Sesekali kita juga menghadapi masalah dalam hidup. Terkadang, kita merasa masalah yang kita hadapi bikin kita stres dan engga sanggup lagi untuk mengatasinya. Bagi sebagian orang, melampiaskan beban emosi bisa dilakukan dengan cara melukai diri sendiri atau self-harm. Beauty mungkin pernah melihat orang yang sering ada bekas luka di tangannya. Mirisnya, 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 laki-laki di dunia punya kecenderungan untuk melakukan self harm. Sayangnya, perilaku yang membahayakan diri sendiri ini justru tabu dibicarakan di masyarakat. Banyak label negatif yang diberikan pada orang yang melukai diri sendiri. Padahal, orang tersebut membutuhkan pendampingan secara psikis dan bukan sebuah aib.
Kalau Beauty sendiri atau orang terdekat punya kecenderungan untuk self-harm, Beauty harus tahu 4 mitos yang ada di diri mereka. Kalau Beauty bisa tahu, Beauty atau lingkungan terdekatnya akan berusaha untuk engga mengatakan kata-kata yang bikin dia semakin terpuruk.
Sering banget kita mendengar orang yang melakukan self-harm dianggap hanya cari perhatian. Orang-orang yang melabeli dengan hujatan ini biasanya akan menjauh dan menganggap remeh orang yang punya kecenderungan melukai diri sendiri. Biasanya mereka akan mengeluarkan kata-kata “paling caper (cari perhatian) aja” atau “kurang perhatian sih, makanya begitu”. Kata-kata ini justru makin bikin orang lain down dan lebih sulit untuk bangkit lagi. Padahal, ia hanya ingin mengekspresikan atau meluapkan emosi negatif yang sudah terlalu besar dalam dirinya. Kebanyakan orang yang melakukan self-harm justru dilakukan secara diam-diam dan engga diperlihatkan.
Beauty mungkin pernah mendengar orang yang sering menjadikan parahnya luka sebagai standar masalah? Biasanya orang itu akan berkata “lukanya masih ringan kok, kalau berat pasti dia bunuh diri” . Kata-kata ini justru semakin mendorong orang lain untuk melakukan self-harm dengan luka fisik yang lebih berat. Masalah hidup seseorang engga bisa dinilai hanya dari seberapa parahnya ia mempunyai luka fisik. Self-harm tetaplah kegiatan yang berbahaya bagi fisik maupun mental. Bahkan, kalau dia sudah pernah self-harm, kemungkinan untuk melakukannya lagi akan lebih besar. Seseorang bisa saja kecanduan kalau engga segera ditangani.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.