Jennifer Haller, wanita berusia 43 tahun menjadi orang pertama yang bersedia mengikuti uji coba vaksin Corona di Amerika Serikat. Secara sukarela, bersama beberapa partisipan lainnya ia disuntikkan vaksin eksperimental tersebut yang pertama kali diuji coba pada manusia, Senin (16/3/2020) di Amerika Serikat.

Wanita yang berprofesi sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan teknologi ini mengaku sangat antusias mengikuti eksperimen tersebut. Ia berharap langkahnya ini bisa membebaskan dunia dari wabah virus corona.

Baca Juga: Bukan Candaan! Cuitan Bebe Rexha Ingatkan Bahaya Virus Corona

"Kita semua merasa sangat tidak berdaya. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi saya untuk melakukan sesuatu. Saya berharap, ini langkah agar dunia bebas dari COVID-19," ujarnya seperti yang dikutip dari laman Daily Hampshire Gazette, Rabu (18/3/2020).

Pemerintah Amerika Serikat berencana akan menguji vaksin tersebut kepada 45 sukarelawan dengan memberikan dosis yang berbeda. Para ilmuwan di Kaiser Permanente Washington Research Institute di Seattle AS, mengklaim telah menemukan anti-virus COVID-19 dan memulai eksperimen vaksin tahap pertama setelah wabah tersebut merebak di banyak negara.

"Kami sudah menyuntikkan vaksin itu kepada relawan. Ini tahap pertama. Kami melakukan segala upaya dalam keadaan darurat ini," ujar dr. Lisa Jackson, pimpinan penelitian di Kaiser Permanente.

Baca Juga: Cegah Penularan Virus Corona, Indonesia Fashion Week 2020 Resmi Ditunda

Mengutip dari Forbes, vaksin yang diketahui bernama mRNA-1273 ini dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Moderna yang berkolaborasi dengan para peneliti dari National Institute of Health (NIH). Uji coba tengah dilakukan di Seattle dengan dosis berbeda kepada 45 sukarelawan tersebut.

Penelitian tahap awal ini bertujuan untuk menguji tiga dosis berbeda dari vaksin mRNA-1273 terhadap 45 partisipan. Para partisipan akan menerima dua suntikan vaksin, selama 28 hari ke depan akan dipantau untuk mengevaluasi keamanan dan imunogenisitas vaksin. 

Para peneliti akan melihat seberapa baik vaksin tersebut merangsang respon kekebalan terhadap protein pada permukaan coronavirus SARS-CoV2.

"Studi ini adalah langkah pertama dalam pengembangan klinis vaksin mRNA terhadap SARS-CoV-2, dan kami berharap dapat memberikan informasi penting terhadap keamanan dan imunogenisitas," kata Tal Zasks, MD, PH.D, Kepala Medical Officer di Moderna.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.