Beauty, baru-baru ini tersiar kabar kalau sejumlah peneliti di Australia berhasil memecahkan 'teka-teki' bagaimana sistem kekebalan atau imun tubuh manusia melawan virus Corona. Pandemi global yang sangat meresahkan masyarakat di dunia ini, tercatat menginfeksi lebih dari 214 ribu orang dan lebih 8.372 pasien meninggal dunia. Di samping itu, tercatat pula kalau sebanyak 83. 313 pasien dinyatakan telah pulih.

Mungkin juga menjadi pertanyaan di antara Beauty, bagaimana sistem imun tubuh melawan virus Corona sehingga sudah terbilang banyak pasien yang dinyatakan pulih? Tapi sebelum itu, ada baiknya kamu juga tahu terlebih dulu bagaimana virus tersebut menginfeksi tubuh manusia dan berapa lama bertahan dalam tubuh?

Bagaimana virus membajak tubuh manusia?

Mengutip dari laman The New York Times, Kamis (19/3/2020), virus ini menyebar melalui tetesan yang ditransmisikan ke udara dari batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi. Partikel virus tersebut bergerak cepat ke bagian selaput lendir dan menempel pada reseptor tertentu dalam sel.

Beauty, ketika partikel-partikel virus Corona menempel pada permukaan kulit secara cepat akan masuk ke membran sel dan kemungkinan besar genetik virus memasuk sel pada tubuh manusia.

dr. William Schaffner, seorang dokter penyakit menular mengatakan, materi genetik tersebut akan mulai membajak metabolisme pada tubuh dan virus akan terus berkembang.

Ketika virus sudah mulai menyebar, biasanya pasien yang terjangkit akan mengalami gejala seperti batuk kering, sesak napas, hingga demam. Virus kemudian menyebar luas ke saluran bronkial alias paru-paru. Di mana ketika virus sudah berhasil membajak paru-paru akan terjadi pembengkakan dan gangguan aliran oksigen .

"Beberapa orang mengalami kesulitan bernapas, mereka perlu memakai ventilator," kata Schaffner.

Perlu Beauty ketahui, sekira 80 persen orang yang terinfeksi virus corona memiliki gejala yang relatif ringan. Namun, 20 persen lainnya akan mengalami gejala yang cukup parah dan berakibat fatal.

Para ahli mengatakan kalau hal tersebut tergantung seberapa kuat sistem kekebalan tubuh pasien. Penderita dengan usia lanjut cenderung mengalami gejala yang parah kalau punya histori penyakit lainnya seperti diabetes atau  gangguan kronis lainnya.

Berapa lama bertahan dalam tubuh?

Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal medis The Lancet menemukan, COVID-19 mampu bertahan di dalam sistem penapasan yang terinfeksi selam 37 hari dan mampu menularkan virus selama hari-hari itu. Hal ini bisa membantu dalam menentukan seberapa lama isolasi dan perawatan yang dibutuhkan oleh penderita agar dapat menyembuhkan pasien secara maksimal.

Baca Juga: Virus Corona Bisa Bertahan Berapa Lama? Ini Jawabannya!

Bagaimana imun tubuh melawan virus Corona?

Para peneliti di Australia yang tergabung dalam Doherty Institute berhasil memecahkan misteri tersebut. Temuan itu pun sudah dipublikasikan dalam Jurnal Nature yang diterbitkan pada 16 Maret 2020.

Seperti yang dikutip dari laman ABC, Kepala Laboratorium Profesor Kathrine Kedzierska menemukan sistem kekebalan tubuh manusia merespon virus corona sama dengan ketika mereka berusaha melawan flu.

"Populasi sel kekebalan yang kita lihat muncul sebelum pasien pulih adalah sel yang sama seperti dengan yang kita lihat pada Influenza," katanya.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengambil sample darah salah satu pasien pertama di Australia (wanita usia 40 tahun-an) yang terinfeksi virus Corona dan mengidentifikasi antibodi dalam tubuh untuk melawan virus tersebut. 

Sebelumnya, dokter mengambil empat sempel darah sebelum dan sesudah kesembuhannya.

dr. Oanh Nguyen menjelaskan, para peneliti melihat respon pada pasien tersebut berbekal pengetahuan selama bertahun-tahun perihal respon kekebalan tubuh pada Influenza. Tiga hari setelah pasien dirawat, para peneliti melihat adanya populasi besar sel kekebalan tubuh. Hal tersebut merupakan tanda pemulihan pada Influenza.

"Makanya kami memperikirakan bahwa pasien akan pulih dalam tiga hari. Dan benar itulah yang terjadi," katanya.

Tim peneliti mampu melakukan penelitian ini dengan cepat lantaran didukung oleh sistem medis yang siap menghadapi infeksi baru. Sistem tersebut diberi nama 'Sentinel Travellers and Research Preparedness for Emerging Infectious Disease' atau Strep-ID.