Rohimah Ali kini sudah bisa bernapas lega pelan-pelan setelah melepas Kiwil dan enggak lagi berada dalam lingkaran poligami. Menikah selama 22 tahun dan dipoligami dalam 17 tahun terakhir, Rohimah tentu mendapat tekanan batin.

Poligami yang dilakukan komedian tersebut enggak hanya dengan satu wanita, tetapi dua bahkan sampai tiga wanita. Rohimah selaku istri pertamanya mengaku sempat ingin bertahan karena alasan anak namun ternyata dirinya sudah enggak kuat lagi.

Rohimah dan Kiwil sudah bercerai dalam agama secara talak, namun proses persidangan mereka di Pengadilan Agama masih berjalan. Baru-baru ini, Rohimah bercerita kepada Maia Estianty betapa beratnya menjadi wanita yang dimadu.

"Memang enggak mudah untuk menahan sabar, menahan supaya jangan marah, menahan cemburu, memang enggak mudah buat saya. Dan itu yang bisa me-manage ya hati saya sendiri," kata Rohimah Ali.

Merasa sering cemburu karena suami enggak bisa terus menerus berada di sisinya, Rohimah mengatasi rasa tersebut dengan bersosialisasi dengan teman-temannya serta berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

"Dan kalau untuk menahan rasa cemburu ya itu, paling saya mainlah gitu, main ke mana, bikin saya lupa dengan sesuatu hal yang bikin saya sakit hati atau gimana. Selebihnya saya berdoa sama Allah SWT untuk minta dikuatkan," katanya.

Berat menjalani hidup sebagai istri pertama yang dipoligami selama belasan tahun, meski terlihat kuat, Rohimah enggak memungkiri dirinya kerap kali menangis.

“Kalau dulu sehari saya bisa tiga kali menangis, selama tujuh hingga delapan tahun,” ungkap Rohimah.

Rohimah Ali sudah menggugat cerai Kiwil pada 15 Desember 2020 setelah mengetahui bahwa suaminya menikah lagi dengan Eva Belisima. 

Baca Juga: Aldi Taher Ingin Nikahi Nissa Sabyan dan Koar-koar Poligami, Dewi Perssik: Enggak Menghargai Perempuan!

Setelah Eva Belisima mengetahui berita tersebut, ia juga meminta Kiwil untuk menceraikannya secara talak karena merasa bersalah kepada Rohimah Ali. Awalnya Eva mengira bahwa Rohimah sudah ikhlas jika dimadu, padahal yang terjadi justru sebaliknya.