Menu

PMSM dan Binus University Gelar Diskusi Ciptakan Lingkungan Kerja Makin Kondusif dan Bebas Diskriminasi, Gimana Cara Mencapainya?

03 Mei 2024 22:45 WIB
PMSM dan Binus University Gelar Diskusi Ciptakan Lingkungan Kerja Makin Kondusif dan Bebas Diskriminasi, Gimana Cara Mencapainya?

PMSM Indonesia menggelar talkshow HR MEET & TALK di Binus University (HerStory/Azka Elfriza)

HerStory, Jakarta —

Dalam lanskap sosial Indonesia yang kaya akan kemajemukan, ketaksetaraan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik terus menjadi isu utama, terutama bagi kelompok minoritas dan rentan. Dengan menyadari potensi keberagaman sebagai kekuatan, upaya meningkatkan inklusi sosial semakin gencar dilakukan.

Diversitas, kesetaraan, dan inklusi menjadi pijakan utama dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs berkomitmen untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan memerhatikan keberagaman budaya, etnis, dan sosial, SDGs mendorong kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan individu untuk mencapai tujuan bersama, menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.

Hal ini menjadi kajian yang dilakukan oleh Perhimpunan Manajemen Sumber Daya (PMSM) Indonesia dan BINUS University melalui penelitian bertajuk “Pelaksanaan Praktik Keberagaman, Kesetaraan dan Inklusivitas (Diversity, Equity and Inclusion/DEI) Perusahaan di Indonesia.“ Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai isu keberagaman, kesetaraan dan inklusivitas yang masih menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Ditemui dalam diskusi HR MEET & TALK yang bertajuk “Pelaksanaan Praktik DEI di Perusahaan Indonesia” yang diadakan pada Kamis (2/5) di BINUS @Senayan fX Campus, Menghadirkan narasumber Ripy Mangkoesoebroto, People & Culture Director PT HM Sampoerna Tbk; Yenita Oktora, Chief Human Resources Officer PT L’Oreal Indonesia; Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden RI, Sociopreneur dan Author; serta dimoderatori oleh Prof. Dr. Meyliana, Professor in Information Systems BINUS University.

Prof. Meyliana mengangkat diskusi berdasarkan hasil kajian dan riset yang dilakukannya dan mendiskusikan praktek penerapan DEI pada lingkup lembaga. Secara spesifik membagi ke dalam enam kelompok prioritas penerapan: jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan, disabilitas, ras, dan agama.

“Penelitian ini bertujuan untuk memahami tingkat kesadaran dan pemahaman pemimpin bisnis mengenai pentingnya praktek DEI di perusahaan mereka,” tutur Prof. Meyliana.

“Selain itu, untuk memahami pelaksanaan strategi, kebijakan, proses dan praktik SDM perusahaan yang berkaitan dengan DEI. Terakhir untuk memahami berbagai hambatan pelaksanaan praktik DEI di lapangan dan praktik SDM terbaik (best practice) untuk mengatasinya,” tambahnya.

Sementara itu Ripy Mangkoesoebroto mengatakan, “Saat ini sudah mulai ada perusahaan-perusahaan yang mengusung keragaman dan inklusi sebagai fondasi utama kesuksesan yang berkesinambungan."

“Sebagai contoh, PT HM Sampoerna terus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, serta memberikan kesempatan yang sama kepada setiap karyawan dan calon karyawan. Keragaman, kesetaraan dan inklusi adalah salah satu pilar kesuksesan.” lanjut Ripy.

Demikian halnya dengan PT L'Oréal Indonesia yang memiliki komitmen jangka panjang terhadap kesetaraan peluang dalam Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi.

“L'Oréal berkomitmen untuk mencapai kesetaraan gender di semua tingkatan dan fungsi perusahaan. Dimulai dari jumlah populasi karyawan kami yang terdiri dari 53% wanita dan 47% pria, dimana sebanyak 46i Management Committee adalah wanita. Kami terus berusaha untuk memastikan bahwa seluruh karyawan memiliki kesempatan membangun karir yang sama, terlepas dari gender ataupun kondisi personal mereka. Saat ini, kami memiliki 11 karyawan wanita yang sedang menjalankan expatriation di berbagai negara lain, dimana 36,4rangkat bersama dengan keluarga mereka. Kami juga memastikan agar segala bagian dari perusahaan turut berkontribusi pada pembentukan lingkungan yang lebih inklusif di mana pun di dunia. Salah satunya yaitu dengan melawan segala jenis pelecehan atau kekerasan, khususnya pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender. Hal tersebut tidak terbatas pada lingkup karyawan saja, namun juga kepada komunitas dan partner yang bekerjasama dengan perusahaan, hingga kepada konsumen.” ungkap Yenita Oktora.

Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia bercerita bahwa pemerintah Indonesia berusaha menjamin kesetaraan dengan mengeluarkan peraturan dan perundangan bagi penyandang disabilitas.

“UU No. 8 Tahun 2016 menjadi pendorong bagi kesetaraan. penyandang disabilitas yang tadinya sulit mendapatkan sekolah, sekarang sekolah inklusi juga sudah mulai semakin berkembang, sekolah luar biasa juga semakin banyak. Kalau dulu aku cari sekolah luar biasa susah sekali, sekolah umum yang ngerti disabilitas juga nggak ada. Untuk itulah pentingnya Inklusifitas,” ungkap Angkie yang juga Penyandang Disabilitas Rungu.

Baca Juga: Lindungi Hak Wanita dan Dukung Kesetaraan Gender, Srikandi PLN Gaungkan Program di Proyek PLTA Upper Cisokan

Baca Juga: Banyak Wanita Jadi Korban Diskriminasi di Tempat Kerja, Ripy Mangkusoebroto Punya Solusinya Nih Beauty!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.