Anak-anak tentu tak ingin orang tuanya berpisah. Namun, terkadang perpisahan jadi satu-satunya jalan terbaik bagi kedua orang tuanya.

Perceraian bisa menjadi waktu yang sangat menyakitkan, traumatis, dan membingungkan bagi anak-anak. Masa transisi setelah orang tua bercerai membuat anak merasa sangat susah dan sedih. Di luar sana beredar isu bahwa anak korban perceraian merasa takut untuk menikah. Apakah itu fakta atau hanya bualan semata?

Tak dapat dipungkiri bahwa perceraian memang merugikan anak-anak, terutama ketika orang tuanya relatif jarang terlibat konflik. Perceraian orang tua memengaruhi anak-anak secara psikologis. Salah satunya membuat anak-anak lebih cenderung mengantisipasi perceraian dalam hubungan di masa depan. Namun, aspek psikologis tergantung pada seberapa baik seorang anak menyesuaikan diri dengan perubahan serta seberapa cepat anak akan bangkit kembali.

Studi menunjukkan bahwa perceraian dan perpisahan berdampak langsung pada perkembangan anak. Menurut penelitian, anak-anak cenderung bereaksi dengan kemarahan, kesusahan, ketidakpercayaan, kecemasan, dan nilai akademis yang rendah selama dua tahun pertama setelah orang tuanya berpisah.

Banyak orang percaya bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai tak akan pernah memiliki hubungan percintaan yang sehat di masa depan. Ketika anak-anak tumbuh menyaksikan pernikahan orang tuanya yang berantakan, mereka mulai merasa was-was tentang keharmonisan dan cinta dalam hubungan.

Kepercayaan rusak dan anak-anak merasa krisis kepercayaan terhadap orang lain. Selain itu, anak-anak mungkin merasa kesulitan untuk menyelesaikan masalah dalam suatu hubungan. Ketika dewasa, mereka pun cenderung memulai hubungan dengan pola pikir negatif.

Baca Juga: Ramadan Tinggal Menghitung Hari, Ini Hal-hal yang Harus Moms Perhatikan saat Anak Pertama Kali Puasa