Industri kreatif merajalela di era globalisasi 4.0. Tentu saja di balik industri kreatif yang bisa terus maju, ada pekerja-pekerja hebat di balik perusahaannya. Pemikiran maju yang dibutuhkan oleh pekerja di industri kreatif salah satunya adalah Lateral Thinking.

Bagi Beauty yang bekerja di dunia industri kreatif, seperti media, periklanan dan pemasaran, mungkin sudah tahu apa itu Lateral Thinking, atau mungkin hanya sekadar tahu dan belum mendalami pola pikir tersebut. Nah, kalau gitu, kita bahas yuk di artikel ini, yang HerStory lansir dari finansialku.com.

Apa itu Lateral Thinking?

Lateral Thinking adalah sebuah cara untuk menemukan solusi dalam memecahkan masalah. Lateral Thinking wajib dimiliki oleh industri kreatif untuk bertindak dengan cara yang unik dalam bekerja. 

Lateral Thinking hadir menyempurnakan pola pemikiran yang sudah ada sebelumnya. Cara ini melibatkan ide-ide out of the box yang enggak bisa diperoleh hanya dengan logika dan cara konvensional.

Berkaitan dengan memandang dari nilai sebenarnya, berdasarkan pernyataan dan mencari titik lemah, pemikiran lateral berfokus pada 'nilai efek' pernyataan suatu ide. Istilah Lateral Thinking ini pertama kali digunakan oleh Edward de Bono pada tahun 1967. Waktu penemuan yang cukup lama untuk jadi trend di era globalisasi 4.0 saat ini.