Wanita hebat (Istimewa)
Beauty, istilah ekonomi restoratif belakangan semakin sering terdengar seiring meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup berkelanjutan. Konsep ini tidak hanya berbicara soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana aktivitas ekonomi mampu memulihkan lingkungan, memperkuat komunitas, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara bersamaan.
Konsep tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Kunstkring Dialogue: Forum Ekonomi Restoratif yang berlangsung pada 24-26 Juni 2026 di Jakarta.
Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan mendorong ekonomi restoratif sebagai pendekatan baru yang menempatkan perempuan sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengatakan, inti dari ekonomi restoratif adalah mengembalikan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.
"Kuncinya adalah ekonomi restoratif, mengembalikan kembali. Tujuan kita bagaimana perempuan yang sudah punya kapasitas ini bisa mendapat ruang, akses, dan berpartisipasi dalam strategi ekonomi nasional," kata Veronica.
Selain itu, penerapan konsep tersebut diwujudkan melalui Program Kebun Pangan Perempuan yang saat ini diuji coba di Nusa Tenggara Timur dan akan diperluas ke Maluku Utara lho Beauty.
Program ini tidak hanya berfokus pada produksi pangan, tetapi juga pengembangan komoditas lokal, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi keluarga.
Sebagai tahap awal, sekitar 650 hektare lahan Perhutanan Sosial di Nusa Tenggara Timur telah diberikan kepada kelompok yang 93 persen anggotanya merupakan perempuan. Pemerintah juga mulai mengintegrasikan dukungan lintas sektor, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan, hingga pemanfaatan energi surya untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
"Jadi kita tidak hanya bicara ekonomi, tetapi juga bagaimana mengembalikan keseimbangan lingkungan melalui ekonomi restoratif," ujar Veronica.
Menurutnya, ketahanan pangan menjadi salah satu pintu masuk penting dalam penerapan ekonomi restoratif. Selain memperkuat ekonomi keluarga, pendekatan tersebut juga diharapkan membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
"Stunting itu sebenarnya berawal dari perut. Karena itu kita mengaitkan program ini dengan kebun pangan perempuan supaya edukasi tentang makanan lokal kembali hidup dan keluarga memiliki akses pangan yang lebih baik," jelas Veronica.
Konsep ekonomi restoratif juga mendorong masyarakat untuk lebih menghargai potensi sumber daya lokal. Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mencontohkan bunga telang yang selama ini tumbuh sebagai tanaman pagar ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan minuman herbal dan produk kuliner.
"Hal-hal yang ada di depan mata kita sering diabaikan, padahal sebenarnya punya nilai ekonomi yang luar biasa jika bertemu dengan ekosistem yang tepat," katanya.
Selain bunga telang, pemerintah daerah juga memetakan komoditas seperti aren, pala, cengkeh, bambu, hingga kenari sebagai produk yang berpotensi dikembangkan melalui ekosistem ekonomi restoratif.
Menurut Sherly, keberhasilan konsep ini tidak hanya bergantung pada modal atau pelatihan, tetapi juga kolaborasi, pendampingan, serta akses pasar yang mampu membuat potensi lokal berkembang menjadi sumber ekonomi berkelanjutan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.