Ferita Lie (Istimewa)
Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam struktur keluarga, melainkan juga aktor penting dalam menjaga ketahanan finansial. Dengan empati yang perempuan miliki, lahir kepemimpinan yang tidak hanya soal menghitung angka, tetapi juga memahami, menuntun arah strategi yang lebih inklusif dan berdampak luas.
Dalam dimensi ruang yang menuntut ketegasan dan keputusan bernilai besar, Ferita Lie menjadi salah satu figur perempuan pemimpin yang mampu menembus batas dominasi maskulinitas di industri keuangan. Bagi sebagian orang, berada di tengah dominasi laki-laki mungkin terasa menekan, namun bagi Ferita Lie justru hal tersebut memberi ruang aktualisasi diri bahwa perempuan juga mampu mengambil peran strategis dan memimpin dengan perspektif yang lebih berempati sekaligus berdampak.

Pernyataan itu bukan sekadar refleksi, melainkan hasil dari perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade yang membawanya dari seorang auditor hingga kini menjadi pendiri dan Direktur Utama Marx Consulting Group, sekaligus sosok yang diusulkan sebagai Komisaris Independen PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tahun 2026.
Lantas, seperti apa kisah perjalanan Ferita Lie menembus dominasi kepemimpinan di industri keuangan?
Alumnus International Executive Magister Management Universitas Pelita Harapan (2020) ini bercerita bahwa pemahaman tentang finansial tidak lahir dari ruang kelas semata. Ia tumbuh dari pengamatan yang sederhana namun membekas, tentang bagaimana orang tuanya mengelola kehidupan, yang dimulai dari mengelola keuangan keluarga.
Sejak kecil, Ferita Lie yang kini menapaki usia 49 tahun ini menyaksikan bahwa mengelola finansial bukan sekadar urusan angka, melainkan perencanaan keuangan yang menjadi fondasi stabilitas keluarga. Setiap keputusan finansial, lanjutnya, memiliki konsekuensi jangka panjang dan dapat mempengaruhi seluruh anggota keluarga.
“Perencanaan yang dibuat di keluarga itu akan mempengaruhi kondisi keuangan secara keseluruhan, jadi harus selalu ada prinsip kehati-hatian,” imbuh Ferita Lie kepada HerStory belum lama ini.
Ia menambahkan, peran sang ibu menjadi sangat krusial dalam membentuk perspektif tersebut. Alih-alih membesarkan anak perempuan dengan ekspektasi domestik semata, ibunya justru menanamkan kesadaran akan pentingnya kemandirian finansial.
“Jadi yang selalu diajarkan oleh ibu saya adalah bahwa wanita itu tidaklah kecil peranannya, tapi justru sangat besar dan terkadang bisa menjadi ‘jaring pengaman’ tambahan jika suami sebagai kepala keluarga mengalami hambatan,” tambahnya.
Dari sana, Ferita memahami bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam struktur keluarga, tetapi aktor pendukung penting dalam menjaga ketahanan finansial. Nilai dan cara berpikir yang ditanamkan kedua orang tuanya itu pun menjadi fondasi kuat yang kemudian membawa Ferita menekuni dunia finansial secara serius.
Karier profesional Ferita Lie dimulai sebagai senior konsultan di Ernst & Young pada awal 2000-an. Berkarier sejak tahun 2000 hingga 2005, ini menjadi sebuah fase yang membentuk ketelitian dan disiplin analitis seorang Ferita Lie.
Dari sana, ia melanjutkan perjalanan di berbagai posisi strategis, mulai dari VP Finance PT Swadharma Kerry Satya Lyman Group (2005-2007), Direktur Keuangan Grand Indonesia Kempinski (2007-2013), Chief Financial Officer Sinarmas Mining Group (2013-2017), Komisaris Utama PT Aldiracita Sekuritas (2017-2018), Komisaris Utama/Direktur/Associate Director PT Sinarmas Sekuritas (2018-2025), Managing Director PT Sinarmas Multi Artha Tbk (2021-2025), hingga mendirikan Marx Consulting Group pada akhir tahun 2025.
Pengalaman lintas industri ini memberinya pemahaman menyeluruh tentang bagaimana suatu bisnis berjalan, mulai dari sisi operasional hingga strategi keuangan. Namun, satu fase yang paling membentuk cara pandang Ferita Lie adalah saat ia bekerja di dunia konsultan. Bahkan, Ferita yang awalnya bercita-cita menjadi seorang pengacara mengatakan bahwa dunia konsultan ibarat sekolah kedua baginya.
“Saya belajar lagi bagaimana mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari. Bertemu langsung dengan klien dengan berbagai macam industri maupun melihat permasalahan yang ada ikut menambah pengalaman saya dan jadi tahu ternyata kadang ilmu yang kita dapatkan itu tidak serta-merta mudah untuk diterapkan,” ujar Ferita.
Selama menjalankan peran tersebut, ia melihat langsung berbagai masalah nyata yang dihadapi perusahaan. Hingga kemudian, muncul dorongan untuk tidak berhenti hanya sebagai pemberi saran.
“Sebagai konsultan kita sering bilang ‘seharusnya begini lho, seharusnya begitu lho’, sampai kemudian akhirnya saya ingin mencoba masuk ke riil industri,” katanya menambahkan.
Pengalaman lintas sektor ini kemudian membentuk apa yang ia sebut sebagai pendekatan ‘human-centered strategy’ – di mana keputusan finansial tidak hanya berbasis data, tetapi juga mempertimbangkan dinamika manusia, organisasi, dan risiko di lapangan.
Dalam perjalanan kariernya, Ferita tidak asing menjadi satu-satunya perempuan dalam ruang pengambilan keputusan. Namun, ia tidak melihat itu sebagai hambatan struktural semata. Terlebih di tengah perkembangan zaman saat ini, peluang bagi perempuan untuk berada di posisi strategis tersebut semakin terbuka, bahkan terbukti bahwa kesempatan itu selalu ada dan terbuka lebar.
Hanya saja, lanjutnya, sebagian perempuan masih ragu mengambil peran strategis, baik karena kurang percaya diri maupun adanya tekanan sosial. Tak hanya itu, terkadang timbul stereotip tentang perempuan, mulai dari urusan rumah tangga hingga persepsi emosional, yang sering kali mempersempit ruang gerak perempuan itu sendiri.
“Kadang bukan karena perempuan tidak diberi kesempatan, tapi kesempatannya yang tidak berani diambil padahal sudah tersedia di depan mata,” imbuh Ferita.
Maka dari itu, dibutuhkan keberanian untuk melangkah maju, melawan keraguan yang ada dalam diri sendiri untuk bisa mengoptimalkan kesempatan yang ada. Ia berharap kaum perempuan membuang jauh-jauh rasa insecure dengan terus membekali diri dengan kemauan belajar yang tinggi untuk meningkatkan kemampuan.
“Jika ada kesempatan, jangan langsung menutup diri dan jangan pernah bilang saya tidak bisa. Kepercayaan diri akan timbul dari pengalaman dan jangan pernah segan untuk belajar lebih banyak lagi,” katanya lagi.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.