Menu

House of Djuita Angkat Tenun Sadum di IFW 2026 Lewat Ulos Simetria

07 Agustus 2026 10:48 WIB
House of Djuita Angkat Tenun Sadum di IFW 2026 Lewat Ulos Simetria

House of Djuita (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Warisan budaya tidak harus berhenti sebagai simbol masa lalu. Di tangan desainer yang tepat, kain tradisional justru mampu menemukan ruang baru dalam dunia mode kontemporer. Itulah yang ditunjukkan House of Djuita melalui koleksi Ulos Simetria pada BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026.

Mengusung tema besar Ulos Simetria, House of Djuita menghadirkan interpretasi baru terhadap Tenun Sadum, salah satu wastra khas Batak, melalui pendekatan modest couture yang menjadi identitas label tersebut. Hasilnya bukan sekadar koleksi busana, tetapi sebuah dialog antara budaya, craftsmanship, dan perempuan Indonesia masa kini.

Tenun Sadum Menjadi Jiwa Koleksi

Founder & Creative Director House of Djuita Hullia Ratu Tiara menjelaskan bahwa koleksi ini lahir dari eksplorasi bersama perajin Jabu Bonang dan Tobatenun. Tenun Sadum kemudian diterjemahkan ke dalam siluet lembut dengan sentuhan embroidery, lace, beadwork, serta teknik layering yang menjadi ciri khas House of Djuita.

“Warisan budaya tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga terus dihidupkan melalui desain yang relevan dengan perempuan Indonesia masa kini.  Kolaborasi tersebut sama sekali tidak bertujuan mengubah identitas tenun Sadum. Sebaliknya, House of Djuita ingin membangun dialog harmonis antara kekayaan budaya Batak dengan karakter modest couture yang feminin, elegan, dan timeless. Tenun Sadum menjadi jiwa yang memperkaya keseluruhan koleksi kami,” papar Hullia.

Bagi House of Djuita, couture bukanlah elemen yang harus mendominasi kain tradisional. Founder & Design Director House of Djuita Ratu Ocsandhara menegaskan bahwa seluruh proses desain justru berangkat dari penghormatan terhadap wastra.

Ratu berkata, “Kami memperlakukan Tenun Sadum sebagai focal point. Motif, tekstur, dan nilai budayanya tetap menjadi pusat perhatian, sedangkan elemen couture hadir untuk memperkuat karakter wastra tersebut, bukan mendominasinya,” jelasnya. Prinsip tersebut diterapkan secara konsisten dalam setiap rancangan. Setiap detail embroidery, lace maupun embellishment dipilih secara selektif, agar tidak mengurangi kekuatan visual tenun.” Hullia menambahkan bahwa dalam setiap look, tim desain selalu mengajukan satu pertanyaan penting. “Apakah detail ini membuat orang semakin mengapresiasi tenunnya? Jika justru mengalihkan perhatian dari wastra, maka detail tersebut kami kurangi,” ujarnya.

Salah satu hal yang paling mencuri perhatian dalam koleksi ini adalah penggunaan warna-warna pastel. Jika selama ini Tenun Sadum identik dengan warna-warna kuat, House of Djuita menghadirkan nuansa yang lebih lembut, romantis, sekaligus modern.

Menurut Hullia, pendekatan warna tersebut memperlihatkan sisi lain Tenun Sadum tanpa menghilangkan identitas budaya Batak yang melekat di dalamnya. Sementara itu, Ratu menilai warna pastel justru memberi ruang bagi tekstur tenun dan kualitas craftsmanship tampil lebih menonjol. “Kami ingin menunjukkan bahwa Tenun Sadum memiliki fleksibilitas yang sangat luas untuk berkembang menjadi fashion kontemporer,” ujarnya.

Kolaborasi Dua Perempuan dengan Peran Berbeda

Di balik koleksi ini, Hullia dan Ratu memiliki peran yang saling melengkapi. Hullia membangun konsep besar koleksi, mulai dari storytelling, arah kreatif, positioning House of Djuita hingga bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan untuk perempuan modern.

Sementara Ratu bertanggung jawab menerjemahkan konsep tersebut menjadi busana melalui eksplorasi siluet, konstruksi, pemilihan material, hingga penempatan detail couture agar tetap harmonis dengan karakter Tenun Sadum.Kolaborasi kreatif tersebut menghasilkan koleksi yang tetap membawa identitas House of Djuita tanpa menghilangkan esensi budaya Batak.

Melalui koleksi Ulos Simetria, House of Djuita ingin menggambarkan sosok perempuan Indonesia yang percaya diri terhadap akar budayanya, namun tetap memiliki perspektif global. Perempuan ini bangga mengenakan wastra Nusantara dalam berbagai kesempatan, bukan hanya pada acara seremonial. Dari sisi desain, karakter itu diterjemahkan melalui siluet yang anggun, nyaman, dan tetap memiliki sentuhan couture sehingga perempuan dapat tampil elegan tanpa kehilangan identitas dirinya.

Menariknya, Tenun Sadum juga membawa pengalaman baru bagi House of Djuita dalam proses desain. Menurut Ratu struktur visual dan karakter tenun tersebut mendorong eksplorasi layering, draping, hingga proporsi yang berbeda dibandingkan koleksi-koleksi House of Djuita sebelumnya.

Sementara Hullia mengakui bahwa kolaborasi dengan Jabu Bonang dan Tobatenun membuka perspektif baru. Ia berkata, “Setiap wastra memiliki bahasa desainnya sendiri. Tugas kami adalah menerjemahkannya agar tetap relevan di panggung Indonesia Fashion Week maupun dalam kehidupan sehari-hari.”

Baca Juga: Ulos Naik Kelas, Hadir Lebih Segar di IFW 2026

Baca Juga: Batik Jakarta Makin Dekat dengan Gen Z, Kembang Sepatu Jadi Inspirasi di IFW 2026

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan