Menu

Dibuat Bersama 70 Perajin Perempuan, GROUND ZERO Jadi Babak Baru FUGUKU

26 September 2026 08:22 WIB
Dibuat Bersama 70 Perajin Perempuan, GROUND ZERO Jadi Babak Baru FUGUKU

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

FUGUKU kembali membawa pendekatan eksperimentalnya ke dunia fashion melalui koleksi ready-to-wear terbaru, GROUND ZERO. Diperkenalkan di PILLAR, Plaza Indonesia Lantai 3, Jakarta, Jumat (25/9/2026), koleksi ini menjadi ruang bagi FUGUKU untuk mengeksplorasi kembali bentuk, tekstur, hingga material dalam busana yang lebih mudah dikenakan sehari-hari.

GROUND ZERO hadir dari gagasan tentang memulai kembali. Sesuai namanya, koleksi ini menjadi titik awal bagi FUGUKU untuk membuka kemungkinan baru dalam fashion dengan melebur batas-batas lama dan tidak lagi terikat pada konsep benar atau salah.

Filosofi “Because there is no right or wrong” kemudian diterjemahkan melalui siluet yang lebih berani, material yang tidak biasa, serta pendekatan warna yang berbeda dari koleksi FUGUKU sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, brand yang selama ini dikenal dengan warna-warna vibrant dan bold tersebut memilih dua warna paling dasar, yakni hitam dan putih.

Pertama Kali Tinggalkan Warna Vibrant

Founder FUGUKU, Savirra Lavinia, mengatakan penggunaan hitam dan putih menjadi bagian penting dari eksplorasi GROUND ZERO.

“Kalau untuk Ground Zero ini, karena terinspirasi dari black and white, sekarang sudah nggak ada lagi yang benar atau salah. Dunia tuh sudah sangat pesat dan sangat luas. Jadi makanya yang diambil itu memang putih dan hitam,” tutur Savirra, di PILLAR, Plaza Indonesia Lantai 3, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Pilihan warna tersebut sekaligus menjadi langkah baru bagi FUGUKU yang selama ini identik dengan warna-warna berani.

“Produk FUGUKU rata-rata terlahir dengan warna-warna yang vibrant, warna-warna yang sangat bold. Nah, sekarang di Ground Zero ini kita benar-benar berawal dari warna yang sangat basic, yaitu hitam dan putih. Itu lumayan satu gerakan baru dari kita yang kita belum pernah lakukan sebelumnya,” katanya.

Namun, eksplorasi GROUND ZERO tidak berhenti pada palet warna. Material justru menjadi salah satu elemen utama dalam koleksi ini.

Untuk pertama kalinya, FUGUKU menghadirkan kemeja berbasis katun yang dipadukan dengan polyester berbahan plastik daur ulang. Material tersebut kemudian diproses menggunakan detail “duri” yang telah menjadi salah satu ciri khas FUGUKU.

Tekstur tersebut memberikan tampilan arsitektural pada permukaan busana sehingga terasa lebih dimensional dan menghadirkan kesan skulptural, meski koleksinya tetap dirancang sebagai pakaian sehari-hari.

Ketika Estetika Eksperimental Bertemu Fungsi

Melalui GROUND ZERO, FUGUKU mencoba mempertemukan estetika eksperimental dengan fungsi. Siluet dibuat lebih berani dan tidak konvensional, tetapi tetap mempertimbangkan kebutuhan pemakaian sehari-hari.

Seluruh koleksi juga dirancang secara unisex, sehingga dapat dikenakan baik oleh perempuan maupun laki-laki.

Selain busana, FUGUKU memperkenalkan lini tas baru yang dirancang untuk membawa berbagai kebutuhan sehari-hari, tanpa meninggalkan karakter visual yang menjadi identitas brand.

Penggunaan material berbasis plastik daur ulang turut menjadi bagian dari eksplorasi FUGUKU terhadap material yang lebih sadar. Namun, menemukan material yang dapat memenuhi kebutuhan desain sekaligus mempertimbangkan aspek lingkungan menjadi tantangan tersendiri bagi brand.

Berangkat dari Kriya dan Keterampilan Tangan

Eksplorasi GROUND ZERO tidak bisa dilepaskan dari akar FUGUKU yang berasal dari pendekatan kriya.

Terinspirasi oleh ketangguhan ikan fugu, FUGUKU mengolah warisan kriya menjadi karya skulptural kontemporer. Savirra memadukan teknik Jumputan Indonesia dengan teknik Bai-Shibori dari Jepang untuk menciptakan tekstur “berduri” yang kemudian menjadi salah satu identitas visual FUGUKU.

Perpaduan kedua teknik tersebut menghadirkan pertemuan budaya yang diterjemahkan melalui proses pengerjaan tangan.

Di balik tampilan eksperimentalnya, lebih dari 70 perempuan perajin di perkampungan urban Jabodetabek turut terlibat dalam pengerjaan karya-karya FUGUKU.

Bagi FUGUKU, para perajin bukan sekadar bagian dari rantai produksi. Mereka juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan kriya sekaligus mengubah pengetahuan tradisional menjadi bentuk ekspresi kreatif.

Karena itu, GROUND ZERO tidak hanya membawa pembahasan mengenai pakaian. Koleksi ini mempertemukan warisan budaya, keterampilan tangan, pemberdayaan perempuan, dan eksplorasi material daur ulang dalam konteks fashion kontemporer.

Hadirkan Sembilan Look di PILLAR

Dalam debutnya di PILLAR, GROUND ZERO ditampilkan melalui sembilan look yang memperlihatkan arah baru FUGUKU.

Busana, tekstur, dan aksesori tidak hanya dipresentasikan untuk dilihat. Pengunjung juga diajak menyentuh dan merasakan material secara langsung melalui tactile workshop yang digelar di dalam toko.

Peluncuran GROUND ZERO turut mempertemukan elemen fashion, craft, dan musik untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif bagi pengunjung. Sementara pengalaman kuliner dalam acara tersebut didukung oleh F&B Partners, Doré by LeTAO dan %ARABICA.

Lewat GROUND ZERO, FUGUKU membawa gagasan untuk kembali ke titik awal: bereksperimen tanpa terlalu banyak aturan, bermain dengan bentuk dan tekstur, serta menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri melalui pakaian.

Baca Juga: Dari Insecure hingga Percaya Diri, 64 Talenta Tampil di Fashion Nation

Baca Juga: Khanaan Terjemahkan Warisan Nusantara ke Gaya Modest yang Modern

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Artikel Pilihan