Dr. Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, di Jakarta, Rabu (30/9/2026)
Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun dengan proporsi 81,2 persen. Dari 23,35 juta peserta skrining Cek Kesehatan Gratis 2025–2026, sebanyak 2,95 juta orang teridentifikasi mengalami gangguan mata.
Di saat yang sama, kebutuhan penglihatan masyarakat ikut berubah. Banyak orang tetap aktif bekerja, membaca, menggunakan perangkat digital, berkendara, bepergian, dan menjalankan beragam aktivitas hingga usia lanjut. Karena itu, pembicaraan mengenai operasi katarak kini tidak lagi hanya berhenti pada bagaimana menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga bagaimana kualitas penglihatan setelah tindakan atau quality of vision dapat mendukung aktivitas pasien.
“Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari. Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pendekatan operasi serta pilihan lensa yang paling sesuai,” ujar Dr. Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Dr. Milzan menjelaskan, operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa alami yang keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Perkembangan teknologi membuat proses operasi dan pilihan lensa semakin presisi serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Salah satu teknologi yang tersedia di JEC adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang memanfaatkan laser femtosecond untuk membantu tahapan penting dalam operasi katarak. Teknologi ini membantu dokter membuat insisi dan bukaan kapsul lensa secara lebih presisi dan konsisten, sekaligus memecah lensa yang keruh sebelum diangkat sehingga penggunaan energi ultrasonik dapat dikurangi.
Pilihan lensa tanam di JEC Eye Hospitals and Clinics meliputi:
“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi. Dari situ, pasien dapat memahami pilihan yang paling sesuai dengan kondisinya,” ujar Dr. Milzan.
Perkembangan teknologi telah memperluas ukuran keberhasilan operasi katarak, dari sekadar mengangkat lensa yang keruh menjadi upaya menghadirkan kualitas penglihatan yang mendukung mobilitas dan kemandirian pasien.
Pendekatan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan JEC sejak 1984. Selama lebih dari empat dekade, JEC mengembangkan layanan kesehatan mata berbasis teknologi diagnostik dan bedah, serta kini memiliki 16 fasilitas di sembilan kota. Posisi JEC sebagai trusted eye care leader juga diperkuat melalui pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode JECX.
“Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,” tutup Dr. Milzan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.