Pilates (istimewa)
Beauty, gerakan Pilates yang terlihat perlahan dan terkontrol ternyata bukan berarti latihan ringan. Sebaliknya, minimnya momentum membuat tubuh harus bekerja lebih presisi untuk menjaga posisi, napas, keseimbangan, dan tenaga selama bergerak. Head Coach VAURA Pilates Menteng, Camila Arreaga, menyebut Pilates sebagai “Pilates is strength training with a brain.”
“Pilates bukan hanya soal stretching atau melatih core. Ini adalah metode latihan yang mengajarkan tubuh untuk bergerak dengan kontrol dan tujuan, bukan sekadar mengandalkan momentum,” jelas Camila.
“Dalam setiap gerakan, kita belajar menghubungkan napas, posisi tubuh, dan tenaga secara bersamaan. Jadi yang dilatih bukan hanya satu otot, tetapi bagaimana tubuh bekerja sebagai satu kesatuan," lanjutnya.
Menurut Camila, karakter tersebut paling terasa saat menggunakan Reformer. Alat yang dilengkapi carriage, pegas, dan straps ini bekerja dengan memberikan bantuan sekaligus resistensi, bergantung pada gerakan dan posisi tubuh.
“Dalam satu latihan, pegas bisa membantu menopang tubuh sehingga kita dapat lebih fokus pada kualitas gerakan. Di latihan lain, tegangan yang sama justru menjadi resistensi yang harus kita kontrol,” jelas Camila.
Carriage yang terus bergerak juga membuat tubuh harus mengendalikan gerakan saat mendorong maupun ketika kembali ke posisi awal. Karena itu, tampilan latihan yang tenang dapat berbanding terbalik dengan tantangan yang dirasakan tubuh.
“Orang melihat gerakannya yang perlahan dan terkontrol lalu mengira mudah. Padahal justru karena gerakannya lambat dan penuh kontrol, latihannya terasa menantang. Kita tidak bisa bersembunyi di balik momentum,” ujar Camila.
Konsep tersebut berakar dari metode Contrology yang dikembangkan Joseph Pilates lebih dari satu abad lalu. Prinsipnya menitikberatkan pada kontrol, presisi, napas, serta hubungan antara pikiran dan tubuh.
Camila sendiri mulai memahami sisi tersebut setelah mengalami cedera lutut, pergelangan kaki, dan pinggul akibat aktivitas lari. Sebelumnya, ia mengajar strength, HIIT, hingga endurance training, serta memiliki latar belakang jazz, contemporary, dan Latin dance.
“Saya sadar bahwa sekadar membangun kekuatan otot belum cukup. Saya perlu memahami bagaimana tubuh bergerak melalui setiap rentang geraknya dengan kekuatan yang terkontrol,” ungkap Camila.
Dari pengalaman itu, Camila melihat Pilates bukan sekadar latihan pelengkap yang tenang. Metode ini dapat melengkapi berbagai olahraga, termasuk lari, angkat beban, golf, olahraga raket, menari, maupun latihan di pusat kebugaran.
“Pilates memang punya peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi kalau Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya,” kata Camila.
“Ini adalah metode latihan yang juga membutuhkan strength, coordination, dan control," tuturnya.
Bagi Camila, justru di situlah perbedaan Pilates dengan sekadar gerakan yang terlihat cantik. Tubuh dituntut tetap bekerja ketika momentum sengaja ditekan, sehingga setiap gerakan harus dilakukan dengan kesadaran dan kontrol.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.