Memasuki bulan ramadan seluruh umat muslim wajib menjalani ibadah puasa. Ketika puasa, tubuh tak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12 jam.

Dengan begitu, banyak orang berpuasa yang merasa lemas. Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh selama berpuasa?

Tubuh menghasilkan energinya sendiri dengan membakar sumber daya yang tersimpan. Energi ini terbuat dari kelebihan lemak, karbohidrat, dan gula. Organ hati jadi bagian terpenting dalam proses mengubah lemak menjadi bahan kimia yang disebut keton yang kemudian digunakan sebagai sumber energi.

Detoksifikasi adalah salah hal yang terjadi saat puasa. Detoksifikasi terjadi saat usus besar, hati, ginjal, paru-paru, kelenjar getah bening, dan kulit menghilangkan atau menetralkan racun. Proses ini dipercepat selama puasa karena tubuh memecah lemak. Bahan kimia dan racun yang diserap dari makanan serta disimpan dalam cadangan lemak dan dilepaskan selama puasa.

Perubahan lain dalam tubuh selama puasa termasuk sedikit penurunan suhu inti tubuh karena penurunan laju metabolisme dan fungsi tubuh secara umum. Kadar gula darah juga turun karena tubuh menggunakan cadangan glikogen di hati dan tingkat metabolisme dasar (BMR) berkurang untuk menghemat energi. 

Ketika puasa, tubuh benar-benar kehilangan banyak air hingga sebanyak 1 liter air per hari. Hal ini dikarenakan ketika tubuh kekurangan makanan, tubuh akan membakar simpanan energinya sendiri; lemak dan air.

Seperti diketahui bahwa 60 hingga 70 persen tubuh terbuat dari air, dan pengurangan asupan air dapat memengaruhi sel dan saraf tubuh. Inilah mengapa tubuh terasa lemas ketika berpuasa. Selain lemas, kekurangan cairan juga bisa menyebabkan efek samping yang kurang diinginkan, seperti sembelit, sakit kepala, pusing, kelelahan, dan kulit kering.

Baca Juga: Agar Puasa Lancar, Hindari Makanan Ini karena Bisa Bikin Perut Cepat Lapar

Itu artinya penting untuk menjaga asupan cairan di bulan ramadan. Ketika tubuh memiliki asupan cairan yang cukup maka puasa akan berjalan dengan lancar.