Setelah melalui proses pernikahan yang panjang, tentunya para pasangan bertujuan untuk memiliki momongan. Sementara itu, berdasarkan World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa satu dari dua pasangan di negara berkembang mengalami masalah infetilitas, termasuk Indonesia. Infertilitas sendiri kerap diartikan sebagai kegagalan pasangan atau salah satu pasangan untuk memiliki keturunan.

Dengan adanya masalah itu, program bayi tabung atau In-Vitro Fertilization (IVF) menjadi salah satu cara untuk membantu pasangan agar memiliki momongan. Nik Yazmin Nik Azman, Chief Commercial Officer Malaysia Healthcare Travel Council mengatakan bahwa tahun lalu sekitar 400ribu orang Indonesia melakukan program bayi tabung di Penang, Malaysia.

Nik Yazmin juga menjelaskan betapa pentingnya cek keseburan sejak usia pernikahan dini, "jika 1 tahun menikah belum punya anak. Cepat-cepat dicek untuk mengetahui masalah dan masalahnya dibereskan."

Baca Juga: Menjadi Hal yang Lumrah, Apa Manfaat Mengikuti Program Bayi Tabung?

Selain itu ia juga mengatakan bahwa enggak perlu malu ketika melakukan program bayi tabung karena bayi yang dibuahi secara alami dengan bayi tabung enggak ada bedanya, semua sama saja.

"Umur di atas 35 sebenernya biologi manusia semakin tua semakin susah untuk punya anak, namun banyak yang enggak sadar. Tentunya kita harus berdoa kepada tuhan, tapi kita juga perlu berusaha enggak hanya doa saja," ujarnya di acara Talkshow "Harapan Dua Garis Biru" dari Malaysia Healthcare (15/1/2020).

Ketika umur semakin bertambah, sel telur pada wanita jumlahnya semakin berkurang dan kualitasnya juga menurun. Padahal sel telur sangat penting untuk tumbuhnya embrio yang akan berpotensi untuk hamil. Oleh sebab itu, Nik Yazmin menyarankan untuk melakukan program bayi tabung di bawah usia 45 tahun. Selain peluang suksesnya akan kecil, hamil di usia lanjut juga akan membahayakan sang ibu.