Menu

Pantang Menyerah! Cerita Pasangan yang Berjuang Menjalani Berbagai Program Hamil

15 Januari 2020 18:10 WIB
Pantang Menyerah! Cerita Pasangan yang Berjuang Menjalani Berbagai Program Hamil

Pembicara dalam talkshow program "Harapan Dua Garis" dari Malaysia Healthcare. (Nada Saffana/HerStory)

HerStory, Jakarta —

Jochbeth Selvy Wairata bercerita mengenai perjuangannya memiliki anak di talkshow "Harapan Dua Garis" yang diselenggarakan oleh Malaysia Healthcare pada (15/1/2020) di kawasan Jakarta Pusat. Ia mengaku mengawali program In-Vitro Fertilization (IVF) atau biasa disebut bayi tabung itu pada tahun 2016. Percobaan dilakukan secara 2 kali, karena IVF yang pertama gagal.

Joch menikah di usia 33 tahun dan memiliki suami yang usianya berjarak 10 tahun di atasnya, yaitu 44 tahun. Awal pernikahan ia mengaku cuek dan menikmati masa-masa pernikahan tanpa melakukan tes yang terperinci dan konsutasi ke dokter kandungan.

"Jadi saya saat itu menikah pada usia 33 tahun, suami saya 43 tahun. di tahun pertama kita cuek 'ah sudahlah kita jalani saja secara alami' kita tidak melakukan apa yang namanya screening test, tidak pergi ke obgyn yaudah lah ya alami alami aja," ujar Joch.

Namun, setahun berlalu ia masih belum juga mengandung. Mulai khawatir dengan usianya yang semakin bertambah, akhirnya Joch dan suami mulai mencoba pengobatan herbal tetapi itu gagal. Setelah gagal, ia baru coba untuk konsultasi dengan dokter kandungan. Diawal percobaan dengan dokter, Joch mengaku hanya diberikan Folic Acid dan tambahan suplemen lain tanpa dilakukannya screening test atau sperm test. Percobaan itu juga belum membuahkan hasil.

Pantang menyerah, Joch dan suami akhirnya mencoba untuk melakukan inseminasi. Sebelum melakukan inseminasi, ia menjalani screening test yang memakan waktu 3-5 hari.

"Hasil keluar dan diinfokan oleh obgyn saya kalau rahim saya itu kondisinya seperti wanita umur 40an, kering. Waduh, hati mulai gimana gitu, apa itu rahim kering? Ternyata suami saya tidak memiliki masalah yang signifikan.  Akhirnya inseminasi pertama gagal,"

Setelah 3 bulan lalu gagal inseminasi pertama, Joch dan suami bertekad untuk melakukan percobaan kedua, namun hasilnya gagal lagi. "saat inseminasi mental sudah dibanting banting seperti itu terus kita harus tetap berusaha," jelas Joch.

Setelah gagal berkali-kali, Joch mengaku enggak menyerah begitu saja. Di usianya yang menginjak 35 tahun, Joch berkonsultasi kepada teman kantornya. Ia disarankan untuk melakukan IVF atau bayi tabung yang ada di Penang, Malaysia. Tanpa pikir panjang, ia dan suami memutuskan untuk pergi ke Negeri Jiran.

Joch menyatakan alasannya untuk memilih program bayi tabung karena prosesnya enggak neko-neko, jika dihitung-hitung lebih biayanya murah, straight to the point dan terus enggak terlalu banyak test yang dilakukan.

Baca Juga: 1 Tahun Pernikahan Belum Punya Anak? Coba Program Bayi Tabung

"Saat itu kita ketemu suster jam 9 pagi setelah itu kita antri jam 10 untuk test darah dan test sperm hasilnya keluar jam 2 siang saya ketemu dokter jam 3 sore masalah saya jelas dijembrengin, hormon AMHnya rendah itu berkaitan dengan kondisi rahim saya yang kering, kuantitas sel telurnya sudah sedikit suami saya dikatakan oligoteratozoospermia jadi, jumlahnya sedikit kualitasnya tidak bagus dan bentuk dari spermanya itu abnormal, maksud dari upnormal adalah kepalanya satu kakinya dua kepalanya dua kakinya satu," katanya.

Setelah mengetahui permasalahan itu,  Segala cara sudah dilakukan dan usianya semakin bertambah akhrinya dokter langsung menyuruhnya melakukukan bayi tabung dan jangan membuang-buang waktunya.

Akhirnya setelah gagal percobaan pertama IVF, kini Joch dan suami telah dikaruniai anak kembar.

Baca Juga: Perjuangan 9 Tahun Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani Berbuah Manis, Sambut Anak Pertama di Primaya Evasari Hospital

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Oleh: Nada Saffana

Artikel Pilihan