Ketika mengalami sakit tenggorokan, tentu akan menimbulkan rasa kurang nyaman. Enggak cuma diidap orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami radang tenggorokan. Kondisi ini tentu akan mengganggu aktivitasnya, salah satunya adalah mempengaruhi nafsu makannya.

Dilansir dari laman Kids Health (9/6/2021) terdapat dua kuman berbeda yang menyebabkan sakit tenggorokan, yakni virus dan bakteri. Kebanyakan sakit tenggorokan disebabkan oleh virus. Namun, jika radang tenggorokan disebabkan oleh bakteri (kuman) biasanya dikenal dengan strep yang berasal dari nama streptococci. Jika tak diobati, ini bisa menyebabkan komplikasi dan menyebar ke orang lain lho.

Ternyata radang tenggorokan itu bisa menular ke orang lain. Bakteri strep yang bersemayam di hidung dan tenggorokan itu bisa menyebar ke udara ketika pengidapnya batuk, bersin atau berbicara. Ketika kuman tersebut dihirup atau tersentuh bisa menularkan penyakit radang tenggorokan. Umumnya ini dialami oleh anak usia sekolah, jadi orang tua harus waspada ya!

Tapi perlu diingat bahwa, enggak semua sakit tenggorokan adalah radang tenggorokan lho. Seringkali, anak-anak mengalami sakit tenggorokan yang disebabkan oleh virus. Nah, kondisi ini biasanya akan sembuh tanpa perawatan medis. Anak-anak yang menderita radang tenggorokan mungkin mengalami gejala lain dalam waktu sekitar 3 hari, seperti:

  • bercak merah dan putih di tenggorokan
  • kesulitan menelan
  • sakit kepala
  • sakit perut bagian bawah
  • kehilangan selera makan
  • mual
  • ruam

Baca Juga: Mengenal 8 Jenis Feses Bayi, Dari yang Normal hingga Menunjukkan Penyakit Serius!

Anak-anak yang mengidap radang tenggorokan, namun enggak diobati lebih mungkin menyebarkan infeksi ketika mengalami gejala yang lebih parah. Mereka bisa menginfeksi orang lain hingga 3 minggu lamanya. Itulah mengapa sangat penting untuk mengajari anak-anak untuk rajin mencuci tangan. Kebersihan yang baik dapat mengurangi kemungkinan mereka terkena penyakit menular seperti radang tenggorokan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas