Putri tiri Fitri Salhuteru, Chelsy Maya, jadi sorotan publik setelah dituding sebagai penyebar rekaman hingga chat wa Nikita Mirzani. Sempat bungkam kini Chelsy buka suara.

Gadis cantik itu mengungkap awal mula dirinya bisa memegang ponsel milik Fitri. Hal ini berawal dari pertengkaran Chelsy dengan ayahnya, Cencen Kurniawan, yang juga suami dari Fitri.

Chelsy marah karena sang ayah membatalkan pesta ulang tahun hingga keduanya ribut besar. Barang-barang Chelsy sampai dilempar ke kolam renang dan ia akhirnya dipinjami ponsel oleh Fitri.

"Aku dilempari kursi, tasku sama handphoneku dilempar akhirnya handphoneku rusak dan akhirnya aku pegang HP bu FS. Aku gak benci sama mereka," seru Chelsy dalam live via Instagram.

"Aku nggak ngerti juga kenapa NM ikut-ikutan. Ini sesuatu yang sensitif dan private. Dan semua yang diungkap itu nggak ada yang benar. Penuh kebohongan. Aku cuma mau damai." bebernya.

Chelsy juga menegaskan tak memegang lagi ponsel milik FS yang dipinjamkan padanya. "Bukan aku yang sebarin, aku pegang HP itu aja nggak. Kan kalau nyebar chat itu kan ilegal," kata Chelsy.

Chelsy jug mengungkap pesan menohok buat sosok NM. Kecewa karena terseret dalam masalah, Chelsy membeberkan perlakuan sosok NM padanya. Tak disangka, NM diduga Niki kerap menyebutnya sebagai perempuan murahan.

Chelsy lantas membeberkan fakta mengejutkan soal tudingan ia memaki-maki ibu kandung. Ditegaskan Chelsy, ia saat itu memang sempat memanggil sang ibu hanya dengan nama saja. Namun ia telah meminta maaf atas sikapnya itu.

"Waktu itu usiaku sekitar 14-15 tahun. Dan aku sangat marah, dan aku sudah meminta maaf pada ibuku. Kami sudah membicarakan hal itu," kata Chelsy.

Baca Juga: Disindir Terus oleh Kiki The Potters, Nikita Mirzani Tegaskan Gak Pernah Pacaran Sama Dia!

"Dan menghargai ayahku? Menghargai itu berlaku untuk dua sisi. Kamu tidak menghargai aku, maka aku tidak menghargaimu. Kalau aku digebuk-gebukin mulu, dimarahin aku, nggak pernah nafkahi aku, ngapain aku respek ke dia." tutupnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas