Di dunia ini, tentu tak ada seorang pun yang mengharapkan perceraian. Namun, jika memang perceraikan jadi jalan satu-satunya bagi pasangan, sulit untuk pihak lain melarang. Meski demikian, pastinya perceraian ini memiliki dampak bagi keluarga, terutama anak.

Menurut Konselor, Jovita Trikomandito C.Ht, S.Pd, Kons, ketika keputusan perceraian sudah mantap diambil, orang tua hendaknya mempersiapkan anak menghadapi perceraian.

“Apabila perkawinan tidak dapat diselamatkan dan perceraian menjadi satu satunya solusi, hendaknya orang tua menyadari bahwa ada masalah penting yang harus diprioritaskan untuk mengurangi dampak negatif terhadap perkembangan jiwa buah hati mereka,” papar Jovita, saat dihubungi HerStory, belum lama ini.

Kemudian, terkait dengan penelitian yang mengungkap bahwa anak korban broken home memiliki kecenderungan punya masa depan suram, seperti berpartisipasi dalam kejahatan atau menjadi pemberontak bahkan pecandu, Jovita pun punya pendapat tersendiri soal itu.

“Menurut saya, pada kasus-kasus seperti itu berpulang kembali kepada komitmen dan konsistensi kedua orang tua yang bercerai. Saya percaya, diperlukan tekad dan niat baik serta kasih sayang penuh sebagai team work (kerja bareng) orang tua yang telah bercerai melakukan upaya dan strategi untuk meminimalisir gangguan psikologis anak,” jelas Jovita.

Lantas, langkah-langkah apa saja yang harus diambil orang tua untuk meminimalisir gangguan psikologis anak pasca-perceraian orang tua?

Baca Juga: 3 Jenis Sihir dalam Rumah Tangga yang Mengancam Keretakkan, Astagfirullah...