Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sekar Putih Djarot, menuturkan, saat ini, jumlah investor ritel pasar modal Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan.  

Menurutnya, hal ini didorong oleh dana simpanan masyarakat yang tumbuh tinggi sehingga membuat suku bunga simpanan juga turun. Alhasil, masyarakat pun mencari alternatif investasi yang menempatkannya kepada instrumen investasi yang memberikan return yang lebih, salah satunya melalui instrumen pasar modal.

Disamping itu, adanya peningkatan pemahaman kesadaran dan kepercayaan masyarakat tentang investasi di pasar modal pun memberikan dampak yang baik bagi iklim investasi nasional.

“Kondisi ini salah satunya tadi terindikasi dengan meningkatnya investasi di pasar modal cukup fenomenal, itu sudah mencapai 5,88 juta sudah ada kenaikkan lebih dari 50 persen ini didominasi oleh investor milenial yang umurnya kurang dari 30 tahun,” tutur Sekar, dalam acara Literasi Investari OJK: Cerdas Investasi di Pasar Modal, yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia secara virtual, Selasa (24/8/2021).

Sekar pun melanjutkan, peningkatan jumlah investor ini juga hasil dari transformasi digital yang menjadi pendorong utama bagi  pendalaman basis investor di pasar modal.

“Optimisme ini juga perlu didijaga oleh OJK dalam pengembangan pasar modal,” ujar Sekar.

Meski begitu, kata Sekar, perlu dicata bahwa dari sisi permintaan, kendati jumlah investor telah mengalami kenaikkan yang signifikan yakni 5,88 juta investor, namun jumlah tersebut dirasa masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah seluruh masyarakat Indonesia.

Kata Sekar, investor pasar modal baru sekitar 2,17%, dan sebarannya juga masih sangat dominan di Pulau jawa. Jadi, menurut Sekar, potensi berinvestasi di pasar modal ini jadi memang masih sangat besar.

Meski potensinya sangat besar, lanjut Sekar, namun tingkat literasi keuangan masyarakat khususnya di pasar modal itu masih rendah. Yakni hanya 5 persen masyarakat yang memahami produk pasar modal. Adapun, angka itu jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional yang rata-rata sebesar 38 persen.

“Dan juga ini masih sangat terbatas chanelling distribution di daerah dimana saat ini perusahaan efek masih banyak di Pulau.Jawa,” imbuhnya.

Lantas, apa saja langkah OJK untuk menggenjot jumlah investor di pasar modal?

Baca Juga: OJK Imbau Sektor Keuangan Lakukan Transformasi Industri Menuju Green Economy