Beauty, di masa pandemi yang tak berkesudahan ini mungkin kita semua berjuang untuk selalu terus berpikir positif. Kita gak mau bersedih, kita gak boleh stress, kita buang jauh jauh pikiran negatif, terus bersyukur, dan lain sebagainya.

Namun tahu gak Beauty, ternyata pikiran seperti itu gak selalu baik juga lho. Karena justru akan malah menjadikan kamu merasa tertekan dan lelah emosi, bukan malah memperbaiki suasana hati apalagi keadaan.

Lantas, apa yang salah dong kalau gitu? Nah Beauty, ternyata ini bagian dari toxic positivity, lho.

FYI, istilah toxic positivity ini sendiri merujuk pada konsep yang mengatakan bahwa berpikir positif merupakan cara tepat untuk menjalani hidup. Dengan pola pikir sedemikian rupa, artinya kamu hanya berfokus pada hal-hal positif dan menolak menerima apa pun yang dapat memicu emosi negatif.

Pakar Psikologi Klinis yang juga seorang Seksolog, Zoya Amirin M.Psi.,FIAS, pun menuturkan, toxic positivity adalah cara seseorang untuk menghindari ekspresi emosi yang semestinya.

“Jadi kebanyakan orang sebenarnya tak mampu secara komprehensif memproses perasaannya sendiri, karena memang banyak orang yang gak nyaman kan dengan perasaan negatif itu ya. Ketika perasaannya itu terlalu kuat, tertekan, ada banyak orang berpikir bahwa paling mudah untuk supaya dia tidak merasa tertekan adalah dengan menekan perasaan tertekan itu, bukan menerima, bukan meng-embrace peraraan itu, nah keadaan itulah yang disebut toxic positifity,” papar Zoya, saat live sharing di Instagram, sebagaimana dipantau HerStory, Jumat (27/8/2021).

Zoya pun menuturkan, toxic positivity ini juga membuat kita merasa seolah tak boleh mengeluh saat sedang mengalami masalah. Kita juga jadi merasa harus selalu bersikap senang atau bahagia terus, dan secara realistis tentu tidak mungkin.

“Jadi toxic positifity itu kan ketidakmampuan untuk memproses perasaan kita sesungguhnya. Kita gak bisa tertawa saat kita senang, menangis saat kita bersedih. Nah, orang-orang yang tidak mampu memproses perasaan adekuat itu, dia akan memproses emosinya sesuai dengan apa yang dia rasakan, lama-lama dia jadi akan mendapatkan salah satu perasaan yang di-skip gitu, dan itu akan membuat dia mengalami gangguan mental,” terang Zoya.

Sehingga kata Zoya, akan lebih baik bila seseorang bisa menimbang emosinya dan membuat sebuah 'ketahanan diri' dalam menghadapi masalah. Ini lebih bermanfaat bagi perkembangan dan kesehatan mental seseorang, daripada memutuskan untuk hanya  merasakan hal-hal positif saja.

Lalu, bagaimana cara agar kita tak mengalami toxic positivity ini?

Baca Juga: Studi: Selain Lawan Virus Corona, Vaksin Juga Baik untuk Kesehatan Mental