Beauty, apakah kamu pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan atau menakutkan hingga membuat kamu trauma? Dari peristiwa besar seperti bencana alam hingga terkecil seperti ditinggal mantan, hal tersebut bisa membuat seseorang merasakan trauma, lho Beauty.

Namun, apa sih sebenarnya trauma itu? 

Psikolog Klinis Associate APDC Indonesia, Iswan Saputro, M.Psi, Psikolog., menuturkan, menurut American Psychological Association (APA), definisi trauma sendiri adalah respon emosional terhadap sebuah kejadian yang membahayakan, menakutkan, dan mengancam.

Iswan bilang, trauma ini dampaknya kemana-mana, ada domino’s effect-nya sendiri, dan biasanya langsung real experience yang kita alami, serta kejadiannya pun spesifik.

“Jadi kalau ditanya kata kuncinya apa,  pertama adalah respon emosional. Kedua adalah sesuatu dari eksternal yang membuat kita ketakutan, berbahaya, atau membuat kita secara keselamatan itu terancam,” kata Iswan, dalam sesi IG Live, sebagaimana dipantau HerStory, kemarin.

Soal penyebab traumanya sendiri, Iswan pun membaginya dalam 3 bagian. Pertama, adalah kejadian berat, berbahaya, atau mengancam. Seperti bencana alam atau kejadian-kejadian yang membuat shock, yang sifatnya tidak terduga atau tidak terprediksi, dan memberikan ketakutan, kesedihan, kemarahan, secara emosional besar dampaknya.

“Lalu yang kedua adalah trauma terjadi akibat kejadian yang terus-menerus. Misal, kita seorang anak yang di rumah itu orang tuanya kerap melakukan KDRT. Kita menyaksikan itu, atau malah kita sendiri yang mendapatkan perlakuan KDRT itu. Kita terbiasa mendengarkan bentakan, cacian, makian, kadang kita juga dikucilkan, ikut ditendang, dipukul, itu juga bisa menjadi penyebab trauma. Selain itu, bullying yang terus menerus dilakukan tiap hari juga bisa menimbulkan dampak psikologis pada diri seseorang. Dan yang kekinian, contohnya adalah cyber bullying,” papar Iswan.

Dan ketiga, kata Iswan, penyebab trauma sendiri adalah pengalaman hidup pribadi.

“Misalnya, ada momen verbal abuse dari orang terdekat. Dan itu membuat kita ada di momen ‘aku ga percaya lagi sama laki-laki’. Kalau sekarang itu output trauma itu jadi trust issue, inner child, turunan-turunan seperti itu,” jelasnya.

Iswan pun mengatakan, trauma bisa berujung pada masalah kesehatan seperti Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD). Dan untuk mencegahnya perlu dilakukan trauma healing.

“Dalam psikologis sendiri juga ada yang berbahaya yang tidak tertangani sejak awal, yakni namanya Gangguan Stres Pasca Trauma atau PTSD (Post Traumatic Stress Dissorder). Tapi itu butuh diagnosis khusus dan perlu dilakukan trauma healing,” ujar Iswan.

Lantas, apa dampak trauma itu sendiri?