Dalam memperingati Hari Demokrasi Internasional yang jatuh tepat hari ini, Rabu (15/9/2021), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19,  dr. Reisa Broto Asmoro, pun berharap wanita Indonesia dapat lebih berperan guna memajukan dan menyalakan semangat demokrasi Indonesia, sesuai dengan peranan dan profesi masing-masing tentunya.

Sebagai seorang ibu dan dokter, dr. Reisa mengaku, dirinya belajar bahwa demokrasi itu justru bisa dimulai dan diajarkan dari usia sedini mungkin. Menurutnya, sebagai ibu, wanita jangan ragu untuk memberikan anaknya kesempatan yang sama, baik anak perempuan dan laki-laki, untuk menyuarakan ide dan aspirasinya. Juga memberikan kepercayaan untuk berperan dalam sistem keluarga.

“Karena, hal itu perlahan-lahan akan menanamkan rasa kepercayaan diri anak dan rasa ingin berperan di masyakarat, di kehidupan dewasanya kelak. Dengan berbekal kebiasaan berdemokrasi yang dipupuk sejak kecil, tentunya hal ini akan menjadi nilai lebih bagi setiap anak untuk lebih menghargai semua orang, dan ia pun mengaplikasikan nilai demokrasi di setiap aspek kehidupan,” papar dr. Reisa, saat menjadi narasumber di webinar bertajuk ‘Sejauh Mana Perempuan Berani Bicara Secara Demokratis’, yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Wirawati Catur Panca (KB WCP), Rabu (15/9/2021).

Lebih lanjut, dr. Reisa pun mengingatkan kaum wanita agar bisa lebih berani berpendapat dan menyuarakan hak-haknya tanpa rasa takut.

“Saya juga pernah ditanya apa kiat-kiat saya selama ini karena bekerja di tempat didominasi kaum pria. Bagaimana saya bisa menyuarakan diri untuk bersuara vocal tanpa rasa takut. Saya rasa untuk menjawab itu yang paling penting dan pertama adalah menghilangkan rasa takut itu senditi. Selain itu yang tak kalah penting adalah mempertajam kemampuan mendengarkan, mengamati, mencermati dan tak lupa selalu meng-update ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bidang yang kita geluti. Tentunya berbekal semua itu, ketika menyuarakan pendapat kita akan lebih berani dan didengarkan,” terang dr. Reisa.

Dan yang tak kalah penting, kata dr. Reisa, kaum wanita pun sebaiknya menyatukan persepsi dan kemauan yang sama. Jangan sampai nanti pendapat dan pemikiran perempuan terdoktrin dengan pola diskriminasi gender.

“Karena saat ini stigma terkait peran dan posisi kaum wanita masih disepelekan. Apalagi ada stereotype gender yang dapat mempengaruhi keyakinan dan perilaku yang tepat dalam hal tersebut,” terangnya.

Dengan pengalamannya di bidang kedokteran, dr. Reisa pun mengaku banyak kesempatan yang diberikan kepadanya untuk menempuh pendidikan. Maka sebaiknya, hal seperti itu dapat  dimanfaatkan dengan baik oleh wanita lainnya juga.

Baca Juga: Tips Siap Divaksin ala dr.Reisa: Tiga Sebelum Tiga | Infografis

“Lakukan berbagai pelatihan-pelatihan dan peningkatan kesadaran kalau wanita ini dapat mencapai hasil dari kesetaraan gender. Saya rasa hal itu bisa menjadi bekal bagi wanitadimanapun dan apapun bidang yang digelutinya. Sebagai penentu kebijakan yang berperan dalam keluarga, kita harus yakin dan bersemangat dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi pada semua aspek kehidupan kita,” pungkas dr. Reisa.