Ilustrasi vaksin jenis Sinovac. (Freepik/rawpixel.com)
Ia menjelaskan, vaksin Sinovac dan Moderna memiliki jarak waktu 28 hari atau empat minggu untuk mendapatkan vaksin dosis kedua, sedangkan AstraZeneca perlu jarak 12 minggu untuk suntikkan dosis kedua.
Sementara itu, Sinopharm dan Pfizer membutuhkan jarak 21 hari untuk bisa melakukan vaksinasi kedua. Untuk vaksin Johnson and Johnson enggak memiliki jarak interval karena hanya akan diberikan satu kali penyuntikkan saja.
"Yang berbeda lagi dari segi penyimpanannya. Khusus untuk vaksin Moderna dan Pfizer, karena ini berbeda dengan jenis vaksin yang lain maka suhu vaksin yang berbasis mRNA harus sesuai dengan ketentuannya, yakni disimpan dalam freezer atau harus beku dengan suhu minus 80 derajat Celcius,” kata dia menjelaskan perbedaan lainnya.
Walaupun vaksin-vaksin tersebut berasal dari berbagai macam produsen, Ia menegaskan bahwa semua vaksin yang diedarkan aman dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya COVID-19.
Ia meminta setelah masyarakat mengetahui perbedaan pada setiap jenis vaksin yang beredar, masyarakat tidak lagi memilih suatu jenis vaksin tertentu untuk disuntikkan agar Indonesia cepat membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
“Sebenarnya kita tidak perlu pilih-pilih merek tertentu. Beragam merek bukan karena kita butuh untuk memilih yang mana, tetapi karena kita butuh jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Semakin kita cepat divaksinasi, semakin cepat pula kita terlindungi,” tegasnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di Suara.com
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.