Moms, apakah kamu pernah merasakan jantung berdebar kencang tak seperti biasanya? Jika kamu pernah mengalaminya, terlebih saat ini sedang hamil, waspada ya Moms! Pasalnya bisa jadi kamu mengalami aritmia, lho!

Menurut dr. Muhammad Ikhsan, Sp.PD-KKV, FINASIM, selaku Internist Konsultan Kardio Vaskular dari OMNI Hospital Pulomas, aritmia adalah irama jantung yang tak teratur, frekuensi getar jantung kurang dari 60 kali/menit atau lebih dari 100 kali/menit, serta terdapat hambatan intraventrikular.

“Kalau kita bicara irama jantung kita merujuk dulu pada nilai yang dianggap normal atau baik dari segi frekuensi denyut jantungnya dalam satu menit, dan juga tak lupa keteraturan dari denyut jantung itu sendiri. Secara umum, denyut jantung yg dinyatakan normal itu berkisar antara 60 s.d 100 kali per menit. Dengan catatan bahwa denyut itu teratur dan disesuaikan dengan aktivitas. Dalam arti gini, kita katakan 60 s.d 100 kali per menit tapi misalnya abis jogging terus denyut nadinya jadi 120 atau 130 kali per menit. Itu bukan artimia. Jadi artimia itu dikondisikan aktivitas yang tak dalam kondisi olah raga/intensitas fisik yang berat. Jadi, kita harus bisa melihat satu per satu kondisi orang bisa berbeda, jadi ni sgt individual dan bukan sifatnya hitam putih,” tutur dr. Ikhsan, saat sesi instalive dengan tema ‘Bahayakah Aritmia pada Ibu Hamil?’, sebagaimana dipantau HerStory, belum lama ini.

Lebih lanjut, dr. Ikhsan mengatakan, faktor genetik tak selalu berperan dalam kasus aritmia. Yang umum terjadi adalah kasus kelainan jantung bawaan yang menyebabkan aritmia. Kelainan tersebut bisa terdeteksi sejak lahir, atau ketika remaja.

“Berbicara faktor genetik apakah berperan memicu aritmia, jawabannya bisa iya, tapi tidak selalu. Ada beberapa aritmia atau kelainan irama jantung yang disebabkan faktor gen, tapi ada juga aritmia yang disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan atau penyebabnya penyakit penyerta lain, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur jantung sehingga aktivitas listrik jantungnya terganggu,” papar dr. Ikhsan.

Soal gejalanya sendiri, dr. Ikhsan menuturkan bahwa aritmia bisa bergejala atau bahkan tak bergejala sama sekali. Tak bergejala dalam arti ada suatu hal yang tak dirasakan secara subjektif.

“Yang paling umum yang dirasakan adalah sensasi seperti berdebar-debar, atau denyut jantung seperti ada yang ke-skip, gak teratur, atau gejala lain yang lebih berat yang perlu diwaspadai lagi adalah tiba-tiba ingin pingsan atau blackout, atau tiba-tiba pusing, lemas. Nah itu bisa jadi salah satu gejala aritmia. Jadi spektrumnya itu sangat bervariasi. Bahkan bisa gejala berat atau fatal sekalipun, yang bisa menyebabkan kematian mendadak juga ada. Jadi sebenarnya nanti yang terpenting adalah deteksi dini dan evaluasi terutama pada orang-orang yang memiliki faktor resiko,” jelas dr. Ikhsan.

Lantas, siapa sih yang rentan kena aritmia ini?

Baca Juga: 3 Cara Mudah Pilih Skincare Aman untuk Ibu Hamil, Catat Nih Moms!