Menu

Jejak Sukses Fransiska Sri Herwahyu Sebagai Peneliti Wanita Indonesia: Role Modelnya, Ibu!

Riana Agustian
11 November 2021 16:05 WIB
Jejak Sukses Fransiska Sri Herwahyu Sebagai Peneliti Wanita Indonesia: Role Modelnya, Ibu!

Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti merupakan salah satu dari 4 empat wanita peneliti Indonesia yang mendapatkan award L'ORÉAL-UNESCO FOR WOMEN IN SCIENCE NATIONAL FELLOWSHIP 2021. (Riana/HerStory)

Dengan memanfaatkan limbah galvanisasi (proses pelapisan seng) yang berlimpah di Indonesia, Fransiska berusaha untuk menyelamatkan kehidupan manusia sehubungan dengan penyembuhan luka kronis akibat diabetes. Seperti apa?

Ya, Fransika akan meneliti struktur nano seng oksida dari limbah galvanisasi sebagai prognostik luka kronis. Luka kronis diketahui dapat memberikan dampak sosial dan beban keuangan dunia karena proses penyembuhan yang tidak secepat dan semudah penyembuhan pada luka umumnya.

Maka dari itulah Fransiska berencana untuk mengembangkan platform deteksi optik berdasarkan struktur nano Zinc oxide (ZnO) dari limbah seng yang diperoleh dari produk samping pabrik galvanisasi yang kemudian dimodifikasi dengan pewarna alam anthocyanin (ANT) yang berasal dari kol ungu sebagai pemantauan visual pH pada luka kronis. ZnO dapat mencegah pertumbuhan bakteri di luka, sedangkan pewarna alam ANT memiliki sifat sensitif terhadap perubahan pH, yang merupakan salah satu penanda kondisi luka kronis.

Dikatakan Fransiska, perubahan warna ANT yang mengindikasikan kondisi luka yang membaik atau memburuk ini dapat diamati secara langsung dengan mata telanjang oleh pasien luka kronis sehingga pasien bisa mengetahui kondisi luka nya dan kapan mereka memerlukan intervensi medis untuk perawatan lukanya. Menurutnya, hal ini akan sangat membantu penderita luka kronis dalam hal finansial dan waktu.

“Sebenarnya, ada 3 hal yang melatarbelakangi penelitian saya ini, karena dari data di Indonesia itu banyak yang menderita diabetes, yang indikasinya mengarah ke luka yang kronis, nah karena banyaknya penderita diabetes dan efek sampingnya ke luka kornis itu bisa menyebabkan beban finansial juga, nah kita perlu melakukan sesuatu nih buat mereka, untuk membantu pasien dan keluarga pasian diabetes. Kedua, dari sisi medis itu sebenarnya ada peluang untuk pengobatan luka kornis ini, tapi masalahnya metodenya itu masih konvensional. Yang nantinya malah membuka peluang nanti si lukanya itu ada kontaminasi bakteri. Jadi perlu ada motede lain yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Lalu dari segi industri juga kita punya limbah galvanisasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal limbah itu punya peluang sangat esar untuk bisa disintesis jadi nano zinc oxide yang memiliki sifat-sifat yang unggul. Nah dari 3 hal ini saya berusaha mengelaborasi, mencari sesuatu apa nih yang bisa kita lakukan dari 3 hal ini,” beber Fransiska kepada HerStory, Rabu (10/11/2021).

Terakhir, Fransiska pun membeberkan kunci suksesnya berkarir sebagai peneliti wanita Indonesia.

“Karena sebenarnya proses penelitian itu adalah proses belajar, jadi kita harus belajar mencari dari apa sih yang dibutuhkan dari riset itu, lalu kita belajar lagi apa sih yang kita inginkan dari penelitian tadi. Jadi sebenarnya itu proses berkelanjutan. Nah karena prosesnya itu sebenarnya membutuhkan step by step dan bukan sesuatu yang instan, saya pikir apa yang harus kita miliki adalah sikap tangguh dan pantang menyerah. Saat kita punya keinginan untuk melakukan sesuatu, ya kita harus berusaha mewujudkannya. Ini memang bukan hal yang mudah, tapi saya yakin kalau kita miliki keinginan, tentu ada jalannya,” pungkas Fransiska.

Halaman: